Emang Ingin Naik Gaji

Bajaj berkokok. pagi akan dimulai. Nuansa kota sudah kental dengan segala hiruk-pikuknya. Pedagang berbondong-bondong ke pasar. Murid sekolah menyerbu angkot. Dan para pekerja sudah siap menghajar tugas kantor. Tidak mau ketinggalan, pemulung pun dengan gancu dan karung gedenya mengembara entah kemana juntrungannya. Pagi. Pembagian waktu yang paling berpengaruh bagi kelangsungan nasib khalayak banyak. Terkecuali spesies yang satu ini.



Rumah kontrakan tipe 5X2 itu bertetangga dengan pinggiran kali. Tempat Mang Saat hidup dengan bini semata wayang dan tiga anak belianya. Dengan menggelagar, bininya membangunkan. Dia masih asyik tidur berpelukan dengan kentongan lapuk yang sudah pension di poskamling. Baginya, lebih enak daripada body bininya yang sudah menggelembung bak bola bekel dicemplungin minyak tanah. Melar. Tak elastik lagi. Dia masih khusuk dengan pejamannya. Bininya makin kesal. Dengan ilmu silat dasar yang pernah diperoleh dari engkong Marupi, satu pukulan keras menimpa manusia malang itu.

“Aduuuuuuuuuuuh, Tikkkkkkkkkkkkk!”, teriaknya dengan Tutik, bini kesayangannya. Dia balik sembunyikan tubuhnya disarung.

“abang, ini apaan?”. Bukan seperti lagu ‘bang, sms siapa ini bang’, Tutik menemukan satu kartu AS waru dibawah sarung lakinya.

“abang judi lagi?”, pertayaan retoris. Mungkin dalam hati Mang Saat, masih untung gua mabuk judi, dari pada mabuk janda!

Sudah bisa ditebak. Lakinya kumat lagi, judi. Ditambah main curang, hobinya ngumpetin kartu biar menang.

“abang enak-enakan tidur. Aye tuh bang, dah nyuci baju Bu Tirto dari jam empat!”, curhat bininya, tak malu didenger tetangga.

Tak bergeming. Penjelasan singkat, padat, terikat bininya tak menggeser posisinya.

“Bang, abang narik gak?”

“elu dah kayak jualan obat gak laku aja! Gua gak narik!”. Kali ini dia sudah bangun. Bersandar di tembok, mengumpulkan nyawa.

“elu mau kemana?”

“aye mau nganter Asan ke sekolah!”. Tutik menarik diesel bajaj.

“emang lue bisa?”

Suara bajaj meledak. Dengan tarikan gas lima kali sudah membunuh puluhan nyamuk dan serangga lainnya di poskamling, tak luput juga rumahnya yang hanya berjarak dua meter.

“elu gak narik, kite mau makan apa, Saadi!”. Bininya tak sopan. Ditinggalkannya dengan mata masih lengket.

*****

“gua dah gak mau narik, Tik. Gua mau cari kerjaan laen.”, dengan muka pas dia berdiri dicermin almari.

“kerja apaan bang. Paling jadi tukang nguras WC kantor, kayak Junet. Iya kan?”, bininya tenang. Karena saking seringnya lakinya bilang gitu.

“gua beneran, Tik!”. Mungkin jika seperti sinetron made in local, mereka akan saling bertatapan, diiringi musik yang semakin membuat penasaran. Atau gak malah nyanyi dangdut yang cuma modal komat-kamit, karena udah dinyanyiian sama penyanyinya.


( to be continue………)


:astig:
Pena Aksi




Post ADS 1
Banner
Banner