Arjuna Berjanji Cinta [Bag.2]

“Wibi. Gue mau ngomong!”, panggil Pertiwi, memanggilku dari belakang. 

“ngomong apaan, Tiw? Kok kayaknya serius banget.”, godaku. Dia menggeretku ke samping kampus. Aku mengelakkan tangannya.
 

“ada apa sih! Pelan aja kenapa!”, protesku. 

“lue suka sama Vina kan? Ayo ngaku!”, paksanya. Aku hanya diam sejenak. Wajahku berubah merah, lebih serius dan bingung. Tak kujawab. 

“lue yang tiap malam sms dan telpon Vina kan? lue ngaku kalau lue itu Arjuna! Ngaku Bi!”, jelasnya. Parah, dia sudah tahu aku yang sebenarnya. Pasti dia baca famflet itu. Aku langsung teringat dengan manusia bernama Ronald. 

Kali ini aku harus diam lagi. Tak ada yang perlu diperjelas karena sudah jelas. Penyamaranku sudah terbuka. Tinggal menunggu kebusukan-kebusukan apalagi yang akan kudapat setelah ini. Mungkin tak cukup Ronald saja yang kuberi pelajaran. Seharusnya Pertiwi juga harus masuk terdaftar menjadi korban kepalan tanganku selanjutnya. Namun, tak mungkin. Mana mungkin aku berani. Aku lemah dengan wanita. 

“loe tahu dari mana?”, garangku. 

“loe jawab dulu tadi!”, pintanya. Aku tatap dengan dalam wajahnya dengan cermat. Ada nilai kesempurnaan diwajahnya. Aku suka. 

Dia salah tingkah. Dia mengalihkan pandangannya kebawah. Yaa, dia kalah dalam adu mata denganku. Naluri kewanitaannya hadir. Malu. 

“apa-apaan sih Wibi!”, protesnya. 

“aku cinta kamu, Tiwi. Aku sayang kamu.”, kataku, memegang pundaknya. Kurasa kami berada di ruang hampa dan waktu yang terhenti. 

Plakk! 

Dia menamparku!! 

“lue kira, gue sama kayak cewek lainnya. bisa loe rayu pake gombalan kampunganmu itu!”, senyumnya dengan sinis. Dia meninggalkanku. Hanya ada bangku-bangku bekas dan rusak dihadapanku. Kudengarkan langkah-langkah terakhirnya sebelum benar-benar pergi. 

Perjelasannya membuatku terpaksa berpikir. Aku tersenyum. Aku malah semakin penasaran dengan wanita yang satu ini. Tak begitu cantik, tapi matanya yang indah, dan desain wajahnya yang sempurna, menawanku dalam pikiranku sendiri. Ayu Inka Pertiwi, aku suka!!! 

******* 

“ampun Nald. Gue minta maaf sama loe. Gue gak akan ngulang!” 

“lue jangan banyak bacot. Buruan mana?” 

“apanya?” 

“sialan. Sok gak tahu! Duit, duit, cuy!” 

Dengan ketakutan. Aldo menyerahkan dompetnya. Dengan cepat Rinald mengambil semua isinya, dan di banting ketanah. Berani-berani Ronald memalak teman dekatku. Tak bisa kuberi ampun lagi. 

“Ronald!”, teriakku. Semua melihat. 

“wah. Ada pahlawan kesiangan di kampus ini!”. Sambil menepuk tangan. 

“balikin duitnya!” 

“kalau gak, gimana?”, ledeknya. 

“BALIKIN!!!!”, teriakku. 

Seketika, gerombolan muncul dari balik gedung kampus. Aku tahu. Sepertinya aku dijebak. 

“Haa…haa….Arjuna, Satria Wibisana. Selamat datang dipermainan Ronald.” 

“banci loe Nald. Maen keroyokan. Maju semua lue pada!” 

“pertama. Loe dah mempermalukan gua di depan temen gua. Kedua, lue dah ngrebut Vina, cewek gua!” 

“ha..haa…. Cuma masalah itu doang lu bawa tukang pasar ini semua!. kutunjuk satu persatu mereka. Enam orang. 

Dengan kode tertentu Ronald menyuruh semua suruhannya maju. bermodal tae kwon doe sampai sabuk hitam, kuladeni mereka semua. lima menit berselang, aku masih bisa mengimbangi pukulan dan tendangan mereka. Namun, kurasakan ada hantaman keras di kepalaku. Dan, Gelap! 

******* 

 Kurasakan aroma obat-obatan dirungan tidurku. Ternyata benar, ditangan kananku terdapat selang yang menghubungkan nadiku dengan infuse. Seumur-umur aku tak pernah begini. Aku memang fobia dengan rumah sakit. Jangankan untuk disuntik, meminum obat warung saja sudah membuat ibu pusing.


Arif Setiyanto

Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis"
Post ADS 1
Banner
Banner