Intelektual Pengabdi Kekuasaan

SHARE:

Penaaksi.com - Hari ini terasa gerakan mahasiswa bergerak sudah minim akan kemurnian idealisme, masing-masing mahasiswa terpecah menjadi ...

Penaaksi.com - Hari ini terasa gerakan mahasiswa bergerak sudah minim akan kemurnian idealisme, masing-masing mahasiswa terpecah menjadi golongan-golongan dan berafiliasi dengan berbagai elemen-elemen politik bobrok yang ada di negeri ini.

Sepenggal kalimat dari paragraf di atas nampaknya tidak asal-asalan karena realitas memang seperti itu, kini ramai menjadi trend dalam dunia gerakan mahasiswa untuk tergabung pada satu entitas kelompok atau golongan tertentu, yang dengan entitas atau golongan itu berafiliasi dengan salah satu partai politik tertentu yang kenyataannya ditunggangi oleh kepentingan politik demi memperebutkan pucuk kekuasaan negeri ini yang secuil. Wajar saja mengapa hal ini marak terjadi pada aktivis mahasiswa, Karena bergabung dengan salah satu entitas atau golongan tertentu yang memiliki tendensi kepentingan politik tertentu agaknya ada secuil jaminan akan harta, tahta, dan wanita atau akan kepastian secercah kesejahteraan pribadi untuk hidup di masa depan. Tapi dengan catatan mereka harus megabdikan diri, pikiran, dan idealisme mereka pada dokrin ketaatan yang dipropagandakan oleh entitas atau golongan yang mereka afiliasikan bahkan mereka sangat patuh terhadap intruksi dari golongan tersebut yang terkadang melebihi kepatuhan terhadap kedua orang tua mereka sendiri. Namun jika tidak tunduk dan patuh, atau jika paling tidak ketika entitas atau golongan tersebut mulai mendekati dan akan hendak merekrut namun kita menolak maka konsekuensinya bersiap-siaplah akan diasingkan, dikucilkan, dan tidak akan pernah bisa menduduki jabatan-jabatan penting dalam organisasi - organisasi kemahasiswaan pada kampus, seperti (BEM, ataupun lembaga legistatif kampus, lembaga dakwah kampus, UKM-UKM, dll). 

Miris agaknya fenomena ini, kampus atau lembaga pendidikan tinggi yang identik akan keluhuran ilmu pengetahuan yang seyogyanya mengedepankan pusat kekuatan moral dalam masyarakat, pemihak pada kebenaran keadilan, dan keagungan budi pengerti. Tapi justru besebrangan dengan kondisi ideal semestinya, kampus mulai tercemari oleh gerakan-gerakan politik kekuasaan, kampus mulai ternodai gerakan moralnya oleh kepentingan-kepentingan politis demi merebut pucuk kekuasaan yang secuil, walaupun banyak nilai-nilai kebenaran dan keadilan terabaikan atau dengan sengaja dipreteli adanya. 

Kini marak pula partai-partai politik, gerakan-gerakan ekstra yang mengatasnamakan perjuangan atas seruan agama. Hal ini pulalah yang membuat banyak kaum intelektual kini (baca:mahasiswa) menjadi tunduk, patuh, dan sangat loyal bermental inlander, padahal belum tentu lagi benar adanya apa yang mereka doktrinkan. Malah hal yang sering terlihat pada entitas atau golongan tersebut yang menunggangi gerakan kaum intelektual kini lebih berkonsentrasi pada bagaimana caranya menaruh paham sehebat-hebatnya mengakar di kampus, merekrut kaum-kaum intelektual yang tergoyahkan idealismenya atas doktrin mereka dan menguasai semua jabatan-jabatan penting di kampus, guna mempermudah semua kepentingan mereka. Minim sekali melakukan kegiatan-kegiatan yang berfokus pada keagamaan dan gerakan sosial, seandainya ada paling juga ini dimaksudkan untuk tujuan awal seperti yang dipaparkan di atas. Alih-alih ingin menegakkan syariat atau tuntunan agama secara sepenuhnya, namun realitas yang ada justru sebaliknya. Tak perduli apakah cara dan strategi yang digunakan masih sejalur dengan nilai-nilai idealita kebenaran dan keadilan, yang penting tujuan sempit mereka merebut pundi-pundi kekuasaan-kekuasaan yang ada dapat terlaksana dan tercapai. 

Hingga kini jadilah kampus menjadi pundi-pundi kekuatan politik bobrok yang digunakan untuk merebut dan menduduki pucuk kekuasaan di negeri ini. Sungguh ironis, namun inilah keadaan kaum intelektual kita walaupun tidak semua kaum intelektual yang ada di negeri ini seperti itu, namun sebagian besar lebih kurang mengalami fenomena ini. Kini marak mahasiswa yang terjun aktif di BEM, di organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya untuk memburu kekuasaan, jabatan, kedudukan, dan kepopularitasan diri sehingga setelah meraih tampuk kekuasaan biasanya mereka tidak menganggap amanah sebagai sebuah amanah dan penuh tanggung jawab namun hanya sebagai batu loncatan agar dapat meraih sesuatu yang lebih besar lagi. Kembali kita mengerutkan kening atas realita ini, padahal idealnya fase mahasiswa adalah fase saatnya membangun pondasi idealisme setinggi-tingginya agar menjadi bekal untuk terus dapat berpijak pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran sampai tua nanti sehingga tercipta pribadi intelektual civil society yang melahirkan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ideal (seorang negarawan). 

Berbagai media cetak, elektronik, dan lainnya sering kita temui penjelasan dan artian makna kata “intelektual”, namun kalau diperhatikan kini mulai pudar kaum intelektual (mahasiswa) yang masih tegak berdiri atas ideologi kebenaran dan kejujuran. Mengutip pernyataan salah satu tokoh “Seorang intelektual adalah seorang yang memiliki pengetahuan umum secara memadai sehingga mampu menangkap fenomena yang tengah berlangsung di tengah masyarakat, bangsa, dan negaranya dan memiliki komitmen untuk membela kepentingan bangsanya serta sanggup menanggung resiko dalam perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran". Dengan demikian seharusnya kaum intelektual dengan pondasi idealismenya memegang peran menentukan dalam setiap perubahan sosial, bahkan revolusi, yang terjadi di negara mereka selama mereka masih berpijak pada nila-nilai kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Apa yang kini terjadi dihadapan kita nampaknya sedikit mirip atau sejarah berulang pada apa yang dialami salah satu mahasiswa FSUI kala itu di era 60-an, “Soe-Hok Gie” namanya. Sampai-sampai perkataannya yang terkenal adalah “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” dalam mempertahankan idealismenya ketika gerakan-gerakan entitas atau golongan ekstra kampus yang sarat dengan kepentingan politis kekuasaan hadir menghegemoni kampus, akibatnya gerakan-gerakan tersebut memonopoli politik kampus demi berebut tampuk kepemimpinan agar dapat melanggengkan kepentingan politik kekuasaannya, kampus yang seharusnya dapat menjadi prototipe sistem ketatanegaraan yang ideal demi terwujudnya pembelajaran politik yang bertujuan membentuk civil society yang mumpuni. Tapi yang ada justru sebaliknya, Kembali kini kita berfikir apa yang harus kita lakukan menghadapi gelombang fenomena ini, dan bagaimana menentukan sikap dalam menghadapi realita ini. Rasanya teruslah bersemangat untuk belajar, terus semangat membangun tradisi ilmiah, yang kini tengah mulai pudar dihantam arus matrealistik, hedonistik dan mungkin dengan sering-sering merasakan hidup berdampingan dengan kehidupan orang-orang kecil terpinggirkan agar kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian jangan mudah percaya dengan siapapun dan beranilah untuk berkata “tidak” walaupun dengan resiko diasingkan dan jauh dari harta, tahta, dan wanita. Jadilah kaum intelektual sejati, yang bergerak atas nilai-nilai nurani, kebenaran, keadilan, idealis, dan tidak ditunggangi kepentingan golongan tertentu. Janganlah takut untuk beridealis dan jangan pula takut untuk diasingkan dan jauh dari kemapanan. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi sebuah pengingatan kita semua khususnya kaum intelektual (baca:mahasiswa) agar terus memupuk nilai-nilai yang sesuai dengan kebenaran dan keadilan, hingga akhirnya kita tidak pernah takut lagi berada pada posisi membela yang benar walau dalam keadaan yang menyakitkan, terasing, dan jauh dari kemapanan.

Hijau
Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis" 

COMMENTS

BLOGGER
Nama

AA,37,Abas,14,Acara,2,AdabIlmu,2,Admin,149,Advetorial,3,Afiliasi,1,Agenda Pengajian,2,Agenda Universitas Indonesia,9,Aksi Bela Islam,4,anak,1,Andi,10,Arif,18,Arjjuna,2,Arti Pendidikan,1,Award,3,bahasa,1,BBM,3,Beasiswa,48,Beasiswa Luar Negeri,3,bedah buku,2,Belajar,3,Belajar Dari Semut,1,Belajar Internet Marketing,1,Belajar SEO,1,benato musollini,1,Berdaulat,74,Biaya Persalinan,2,BINUS University,1,Biografi Pemimpin Muslim,2,Bisnis,11,Blogger,2,Branding,1,Buku,8,BUMN Outlook,1,Buya Hamka,3,Cembung,29,Cerita,8,Cerpen,8,Cinta,4,Coklat,1,CPM,2,Doa Nabi,1,Dompet Dhuafa,3,Donasi,2,Dunia Sepeda,2,Ekonomi,7,Entrepreneur,6,Esai,4,Event,381,Facebook,2,Facebook Marketing,2,FAK,2,Fakta Dunia,1,Fatih,1,Fight,1,Finansial,1,Fisika,7,Forex,1,Forum Indonesia Muda,5,ForumForID,1,Foto,2,Freelance,1,FutureShaper,24,Gambar,1,Gerakan Sosial,7,Ghufron,13,Guru Bangsa,2,HabibRizieq,14,Hadist Pilihan,7,Hanya Allah,1,Hardiknas,1,Hikmah,53,Hit Obat Nyamuk,1,homoseks,1,HotPost,430,HTML,1,Hujjatul Islam,10,Hukum,1,Idul Fitri,1,Ikhlas,1,Ilmu,1,Imam Ahmad,3,Imam Syafii,2,Impian,2,Indonesia,76,Infografis,1,Inspirasi,4,Institut Teknologi Bandung,1,Intelektual,2,Internet Marketing,7,IRF,1,Islam,100,Islam Nusantara,2,Islamic Book Fair,1,Islamic Book Fair 2015,3,isu,1,IT,3,Jakarta,2,Jam Tangan,1,Jazz,1,Jelajah Kampung,1,Jelajah Kampus,1,JIB,2,Job Fair Jakarta,2,Jurnalistik Mahasiswa,2,Jurnalistik.,1,Kajian,2,Kajian Islam,1,Kajian Media,1,Kalimat Bijak,1,Kalimat Motivasi,1,Kampung Sarjana,33,Kampus,4,Karakter Bangsa,2,kartini,1,Karya Tulis,2,kebangkitan islam,28,Kebangkitan Nasional,1,Kejayaan Majapahit,1,Keluarga Baik,1,Kemiskinan,2,kesehatan,2,KH Abdullah Faqih,1,Kimia,1,Kisah,7,Kisah Sukses. Tip Top,1,KisahDai,8,KKG,1,Komentar Jalanan,1,Komersialisasi Pendidikan,7,Kompetisi,10,Kompetisi Islam,1,Konten,1,KreAksiMuda,39,Kualitas Guru,1,Kuliah Audio,16,Kultwit,22,Lari,1,LGBT,2,Logo Marketing,1,lomba,47,Lomba Blog,1,Lomba Film Dokumenter,1,Lomba Menulis,2,Lowongan Kerja,2,LPDP,2,Ma Chung Blog Competition 2010,2,Maaf,1,MadeInIndonesia,3,Mahasiswa,8,Marketing,1,Marwan,1,Matematika,1,Maula,5,Media Belajar,4,Media Islam,1,Media Sosial,5,MedPart,110,Membaca,1,membuat blog,25,membuat konten,1,Menulis,4,Menulis yuk,5,monetize,2,Motivasi,38,Motor Tercepat,1,Mudik,1,Muhammad,1,Muslim Indonesia,2,Nasihat,1,Nasihat Ulama,7,Negara,1,Neoliberalisme,4,ngeblog,1,Nik Abdul Aziz Nik Mat,1,Open Recruitment,1,Opini,82,Pahlawan,62,Pahlawan Indonesia,6,Pahlawan Wanita,1,PahlawanBicaraPendidikan,5,Pameran Buku,1,Pancasila,3,Parlemen,1,Parodi,1,Pejuang,4,Pelajaran Agama,1,Pelatihan Pemuda,1,Pemikiran Khawarij,1,Pemimpin,13,Pemimpin Indonesia,3,pemuda,17,penaaksi,1,Pendidik,3,Pendidikan,74,Pendidikan di Daerah,3,Pengkhianat,1,Pengusaha,1,Penulis Tamu,92,Peradaban,8,Perang Pemikiran,1,perempuan,1,Pergerakan,6,Pergerakan Mahasiswa,13,Peristiwa,12,Perjalanan Hidup,2,Perjuangan,3,Perpustakaan,2,Persiapan,1,Pesan Nabi,2,Pesan Rasulullah,2,Peserta didik,1,Pesta Wirausaha,1,Petisi,3,Photoshop,1,Pidato,1,Pilkada,1,Podcast Orasi Santai,8,Politik,58,Poster,3,PPI UKM,1,Press Release,4,Pribadi,1,Prihatin,1,Proklamasi,1,Propaganda Media,2,Puasa,5,Puisi,12,PUSHAMI,3,Putri,3,Quote,1,Qur'an,3,Rakyat,1,Ramadhan,14,Rasulullah,2,ReflAksi,8,Resensi Buku,37,Resensi FILM,2,Review,5,Review Buku,6,Rezaki,2,RUU PT,2,Sahabat,1,Sahabat Rasulullah,1,Sains,42,Sajak,1,Satir,1,Sedekah,2,Sejarah,11,Seminar,1,Seminar Akbar,2,Sentilan,1,Sepak Bola,1,Shalahuddin,1,Siswa,3,skripsi,1,SmartGenerationMentorship,4,SMP,1,Social Movement,4,Stimuno,1,Store,1,Subsidi,1,Super Camp,1,SyaikhAA,11,Syukur,1,Taklid,1,Tanpa Jil,1,Teater Sastra,3,Tebar Qurban 2014,1,teknologi,6,Template,1,Terorisme,2,Tim Bola Indonesia,2,Tips,2,Tips Menulis,12,Toko Online,2,Tokoh,18,Tokoh Muda,19,Tools Gratis,1,Tridharma Perguruan Tinggi,4,Trisakti,1,Tutorial,1,Udin,2,Ujian Nasional,6,Ulama,6,Umum,59,Unduh,1,Universitas,2,universitas katolik parahyangan,1,Universitas Negeri Jakarta,2,UNJ,1,UNJkita,1,video,4,Wirausaha,6,Wisata,1,Wordpress,1,Yohanes Surya,1,Yotube,1,Zain An Najah,1,Zubair,1,
ltr
item
Belajar Dinamis & Idealis: Intelektual Pengabdi Kekuasaan
Intelektual Pengabdi Kekuasaan
http://2.bp.blogspot.com/-A5jDnEIYXOQ/TksGWhdU6TI/AAAAAAAAAa0/fTVOcN8Fvvc/s1600/69+intelek+cupu.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-A5jDnEIYXOQ/TksGWhdU6TI/AAAAAAAAAa0/fTVOcN8Fvvc/s72-c/69+intelek+cupu.jpg
Belajar Dinamis & Idealis
http://www.penaaksi.com/2011/08/intelektual-pengabdi-kekuasaan.html
http://www.penaaksi.com/
http://www.penaaksi.com/
http://www.penaaksi.com/2011/08/intelektual-pengabdi-kekuasaan.html
false
5161257070308476956
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy