Jadilah Manusia Pembelajar


Suatu ketika saya pernah melihat bagaimana anak kecil belajar berjalan ditemai kedua orang tuanya, cukup lama saya memperhatikan bagaimana anak kecil itu mulai berjalan dari awal ketika dia berjalan masih di tuntun oleh ayahnya hingga dilepas agar anak itu berani belajar berjalan sendiri, saya perhatikan kurang lebih kira kira anak itu berumur 1 tahun lebih. Sejenak saya terdiam dan berfikir cukup lama sambil memperhatikan anak kecil itu belajar berjalan mulai dari dituntun, akhirnya dilepas, terduduk dan jatuh kemudian menangis, luka, tapi dia tak lelah dan tak menyerah dalam mencoba sampai akhirnya anak itu tertawa dengan riang dan puas ketika mampu berjalan hingga akhirnya tanpa sadar anak itu mampu berlari kearah ibunya dan lari kembali kearah ayahnya dengan semangat. 

Pengamatan ini secara sederhana mampu membuat saya berfikir dan lebih meyakinkan bahwa memang hakikat manusia adalah belajar, dari masa kanak kakak manusia selalu belajar, ketika kanak-kanak manusia belajar berjalan, berlari, berbicara, bersosialisasi, belajar berbagai macam permainan yang ada, memasuki fase remaja manusia belajar memahami dan menjadi seseorang manusia seutuhnya, belajar berbagai macam pelajaran yang mampu membuat dia lebih tau dan siap dalam menjalani kehidupannya, belajar tentang banyak rasa emosi, kekecewaan, kesenangan, tanggung jawab dan cinta. Kemudian memasuki fase kehidupan sebagai dewasa dia harus belajar bijak dan belajar menjadi teladan untuk setiap orang disekitarnya. 

Sempat berfikir, apa jadinya jika manusia melupakan dan tidak memperdulikan hakikatnya sebagai seorang pembelajar, mungkin anak anak yang sedang belajar berjalan akan berkata kepada orang tuanya “Ayah, mama udah ah aku nyerah , ga mau belajar jalan lagi”, lalu ketika masa usia remaja melupakan tugasnya sebagai manusia pembelajar maka remaja itu akan cenderung memnfaatkan waktu mudanya untuk bersenang-senang, berbuat sesuka hati dan mementingkan egonya agar setiap keinginannya terpenuhi, mereka akan berkata “ahh, mumpung kita masih muda, jadi manfaatin waktu itu buat senang-senang bro !!” dan mungkin ketika fase dewasa manusia itu akan menjadi manusia yang serakah, suka bersikap sewenang-wenang dan tak mau mengalah, merasa dirinya paling benar karena sudah banyak pengalaman dan lebih lama menjalani kehidupan, secara sadar atau tidak sadar mereka akan berkata “udah lah, saya lebih tau dan pengalaman dari kamu, umur masih seumuran jagung aja mau ngajarin atau nasehatin saya”. Aneh dan lucu juga sebenarnya tapi ini menegaskan bahwa belajar merupakan kebutuhan hidup manusia. 

Manusia dan hasratnya 

Berbicara tentang belajar, tentu yang akan dipelajari adalah sebuah Ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan itu hakikatnya berwal pada kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya. Dengan sifat dasar manusia sebagai animal rational yang dibekali hasrat ingin tahu. Sifat ingin tahun manusia telah disaksikan sejak manusia masih kanak-kanak. Pertanyaannya sederhana, seperti pertanyaan pertanyaan “apa ini”, “itu apa” telah keluar dari mulut kanak- kanak. Kemudian timbul pertanyaan “mengapa begini, “mengapa begitu” dan sebagainya. Bentuk bentuk pertanyaan seperti itu juga selalu ditemukan disepanjang sejarah manusia. Dan manusia diberikan akal pikiran sehingga manusia mau mencari jawaban atas setiap pertanyaan dan akhirnya mampu menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan itu. Dari dorongan hasrat ingin tahu itulah manusia belajar sesuatu. 

Jadilah manusia pembelajar 

“Setiap orang adalah guruku, setiap tempat adalah sekolahku dan setiap waktu adalah waktu belajarku”. 

Sebuah kutipan yang menjadi motto hidup seorang senior di kampus yang sampai saat ini masih saya ingat dengan jelas masih saya ingat. Dan kata-kata itu secara cukup sederhana saya artikan sendiri dalam hidup bahwa menjadikan motto hidup sebagai setiap orang yang kita temui sebagai guru kita, artinya kita bisa belajar apapun dari tiap orang baik itu sifat ataupun sikap dari seseorang agar kita bisa termotivasi dan terinspirasi untuk berbuat kebaikan dan juga belajar dari keburukan seseorang agar kita tak mengulangi kesalahan yang sama seperti orang yang dimaksudkan. Setiap tempat adalah sekolaku yang menjadi landasan bahwa harusnya kita bisa belajar mengamati sekitar dari setiap kejadian yang ada sampai akhirnya kita mampu menciptakan solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Dan setiap waktu adalah waktu belajarku, dimana memang seharusnya kita memanfaatkan tiap-tiap waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya untuk belajar. 

Kadang kita melewati berbagai macam situasi dan kondisi yang menuntut kita agar mampu dengan cepat dan tepat dalam menghadapi tiap masalah yang akan kita hadapi, hal ini akan mudah ketika kita paham akan tugas kita menjadi manusia pembelajar, namun hal ini akan menjadi sulit karena kebanyakan kita terkadang lupa akan tugas dan hakikat kita sebagai manusia pembelajar, maka dari itu jadilah manusia pembelajar

Oleh : Akhmad Khairudin
Post ADS 1
Banner
Banner