#FutureShaper 3 : Memiliki Identitas Kepakaran



Pada bulan Juni 2012 lalu, saya bersama delegasi Indonesia untuk G20 Youth Summit 2012 berkesempatan untuk berkunjung ke tempat Ibu Sri Mulyani Indrawati di Kantor Pusat World Bank di Washington, D.C. Waktu itu saya bersama teman-teman telah selesai berpartisipasi dalam acara G20 Youth Summit 2012 selama sepekan. Kami berkunjung ke Ibu Sri Mulyani untuk berbagi tentang isu-isu yang kami advokasi di forum, bercerita tentang hasil summit-nya, meminta feedbackdari beliau, dan juga menjajaki tambahan supporter untuk organisasi kami sehingga lebih kredibel. Pertemuan yang berlangsung sore hari selama satu jam itu, adalah salah satu pertemuan paling penting dan paling inspiratif bagi saya selama ini. Dari Ibu Sri Mulyani saya belajar menjadi pribadi Indonesia yang memiliki kompetensi mengubah dunia. Ibu Sri Mulyani, yang saat ini mendapat amanah sebagai Managing Director di World Bank, mengawasi perekonomian 74 negara di Latin Amerika, Karibia, Asia Timur, Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Empat tahun lalu, saya menyaksikan pertunjukkan seni yang luar biasa dari Grup Kiai Kanjeng yang diprakarsai dan dipimpin oleh Emha Ainun Najib. Ketika itu almamater saya, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta sedang mengadakan salah satu rangkaian acara peresmian gedung baru sekolah kami yang sempat runtuh akibat gempa Bantul 2006. Kiai Kanjeng menurut saya sangat istimewa karena musiknya menggabungkan kesenian tradisional dan kesenian modern. Lagu-lagu yang dilantunkan pun membiliki kandungan makna yang dalam dan agung. Ini adalah video ketika Kiai Kanjeng tour ke Belanda, silahkan disimak. Kiai Kanjeng sudah memproduksi lebih dari 10 album lagu berbahasa Jawa, Indonesia, Inggris, India, Arab dsb. Kiai Kanjeng sering mendapat undangan tour internasional seperti ke Malaysia, Abu Dhabi, Mesir, Belanda, Australia, Inggris dsb.

Ibu Sri Mulyani dan Emha berbeda, namun apa yang membuat mereka berdua sama? Mereka masing-masing memiliki identitas kepakaran: Ibu Sri Mulyani dikenal sebagai seorang ekonom ulung yang turut berkontribusi atas menguatnya perekonomian Indonesia dan diyakini mampu membantu negara-negara berkembang lain melalui posisinya di World Bank saat ini. Emha dikenal sebagai seorang budayawan, penyair, pemusik, dan pegiat teater yang unik; turut melestarikan budaya Indonesia, mengenalkan budaya Nusantara ke dunia internasional, serta mempromosikan kerukunan antar golongan. Ya, identitas kepakaran inilah yang membuat Ibu Sri dan Emha diingat, diapresiasi, dan bermanfaat di bidang mereka masing-masing.

Identitas kepakaran inilah yang juga harus kita miliki. Kita akan diingat, diapresiasi, dan dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang-orang disekitar kita apabila kita memiliki suatu identitas kepakaran tertentu. Orang lain sering menyebutnya sebagai personal branding. Tetapi yang saya maksud lebih dalam dari hanya sekedar branding. Kalau branding berada pada tataran kulit/permukaan tentang kita pingin dikenang sebagai apa dengan simbol-simbol yang kita pakai/kenakan/bawakan, identitas kepakaran lebih kepada talenta atau skills khusus apa yang kita miliki dan ingin dikenal oleh orang lain. Jadi konsep identitas kepakaran yang saya perkenalkan menggabungkan antara personal branding dengan telenta/skills.

Memiliki talenta/skills tanpa adanya personal branding membuat identitas kita sulit di-spotted oleh orang lain. Itu buruk karena misalnya Emha tidak memperkenalkan kepakarannya melalui pengajian Komunitas Jamaah Maiyah dan dengan menulis buku atau artikel, mungkin ia tidak akan dikenal sebagai budayawan multitalenta, dan Kiai Kanjeng tidak akan sebesar serta sebermanfaat sekarang. Tetapi personal branding tanpa adanya talenta/skills khusus yang kita miliki sangat berbahaya karena dapat merusak kredibilitas dan kepercayaan publik yang sedang kita bangun. Kalau misalnya Ibu Sri Mulyani diangakat Menteri Keunganan dulu hanya karena dia sejak usia muda membangun branding sebagai ekonomi melalui berbagai media nasional, tetapi tidak benar-benar memiliki skills sebagai ekonom, pasti ekonomi Indonesia runtuh ketika krisis global menghantam tahun 2008 lalu. Ibu Sri dan Emha memiliki keduanya: talenta dan branding.

Apabila teman-teman ingin belajar tentang personal branding, sudah banyak sekali tips-tips bertebaran di internet. Diantaranya yang saya suka: a) Personal Branding Blog, b) Artikel di Forbes tentang “The First Step to Building Your Personal Brand”, dan c) Artikel Business Insider tentang “10 Ways To Build Your Personal Brand.” Begitu juga apabila kita ingin mengembangkan talents atau skills kita, banyak artikel tersebar di internet. Apabila Anda ingin menajamkan talentssebagai inovator, pemimpin, dan manager, bisa baca tulisan blog saya sebelumnya“10 Sumber Ilmu Favorit tentang Kepemimpinan, Manajemen dan Inovator” sebagai salah satu titik awal. 

Selain belajar dari berbagai sumber, usaha mengembangkan talents bisa dilakukan dengan cara meneladani apa yang telah dilakukan oleh figur idola kita. Misalnya saya sangat mengidolakan Barack Obama. Saya ikuti track record dia dari usia muda hingga saat ini, milestone apa yang telah ia lalui sehingga dia bisa memiliki leadershipdan political talents serta public speaking skills yang sangat mengagumkan seperti sekarang. Dari situ saya termudahkan untuk membiasakan diri dan belajar dari sumber ilmu yang relevan dengan apa yang pernah dipraktikkan oleh Obama. Oleh karena itu, memiliki figur idola atau setidaknya mentor, begitu essensial. Topik tentang mentor atau coach akan saya bahas di artikel edisi #FutureShaper lain secara terpisah.

Setiap dari kita terlahir dengan keunikan bakat kita masing-masing. Tugas kita adalah menemukan dan mengasahnya agar keunikan bakat itu menjadi sumber identitas kepakaran kita. Saya yakin setiap dari kita penting dan dibutuhkan—Tuhan memiliki misi tersendiri melahirkan kita di dunia. Dengan identitas kepakaran yang kita miliki tersebut, akan memudahkan kita untuk memberikan kontribusi di suatu bidang spesifik dengan kontribusi yang maksimal. Dan apabila semakin banyak anak muda Indonesia berhasil menemukan dan mewujudkan identitas kepakarannya, saya yakin Indonesia tidak akan kekurangan stok pemimpin masa depan. Coba ceritakan identitas kepakaran apa yang ingin Anda bangun kepada saya via Twitter di@GhufronMustaqim. Selamat melanjutkan petualangan membangun identitas kepakaran, semoga sukses!


#FutureShaper adalah program dari Forum for Indonesia yang merupakan edisi tulisan-tulisan tentang kepemimpinan dan manajemen. Edisi ini ditulis untuk menjadi salah satu bahan inspirasi dan diskusi bagi teman-teman yang ingin mengawali petualangan menjadi pemimpin di lingkungan kita masing-masing.

@FutureShaperID | @forumforID | @GhufronMustaqim


Artikel ini juga bisa dibaca di sini
Post ADS 1
Banner
Banner