Kalau Rejeki Nggak Kemana 1

SHARE:

Ketika saya masuk kuliah di Universitas Indonesia, tahun 1994, biaya kuliah masih relatif murah. Saya hanya perlu membayar 425 ribu ru...



Ketika saya masuk kuliah di Universitas Indonesia, tahun 1994, biaya kuliah masih relatif murah. Saya hanya perlu membayar 425 ribu rupiah setiap semesternya. Angka itu tentu saja jauh lebih murah dibandingkan biaya kuliah sekarang ini yang mencapai jutaan rupiah setiap semesternya. Belum lagi ditambah dengan uang gedung yang nilainya mencakar langit. Walaupun pada masa itu belum terjadi krisis moneter dan nilai rupiah lebih tinggi ketimbang sekarang, biaya kuliah pada saat itu masih sangat terjangkau oleh banyak orang. Sehingga bagi mereka masuk ke perguruan tinggi negeri merupakan pilihan utama untuk meringankan beban orang tua.

Karena tidak berasal dari keluarga yang terlalu miskin, sekaligus tidak juga terlalu kaya, saya jadi kurang terdorong untuk mencari-cari peluang beasiswa. Lebih-lebih lagi informasi seputar beasiswa ketika itu masih agak terbatas, dan saya termasuk orang yang kurang gesit dalam mencari celah-celah mendapatkan beasiswa semacam itu. Maka setiap semester saya hanya mengandalkan dana dari orang tua untuk membiayai kuliah.

Pada tahun-tahun terakhir kuliah, saya mulai bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar. Gajinya tentu saja masih sangat kecil. Tapi adanya pekerjaan itu jelas membuat biaya kuliah tidak terlalu membebani lagi. Nah, dalam keadaan seperti inilah saya justru mendapatkan rejeki tambahan. Anehnya, walaupun rejeki itu semula saya tolak, saya terpaksa menerimanya juga pada akhirnya. Begini ceritanya.

Pada suatu hari, saya sedang duduk-duduk di taman kampus saya, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UI. Lalu tiba-tiba saja teman saya, Amin Rahayu, mendatangi saya cepat-cepat. Begitu sampai, dia segera duduk di samping saya.

“Wi, kamu mau dapat beasiswa kan?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Siapa yang nggak syok coba kalau ditanya mendadak seperti itu.

“Eh …,” saya bingung mau jawab apa.

“Kamu mesti mau, Wi!” katanya bersemangat. “Mau ya!”

“Ini ada apa sih, kok tiba-tiba nawarin beasiswa?” saya bertanya heran. “Pakai maksa lagi.”

“Begini,” ia mulai menjelaskan, “Ada beasiswa yang ditawarkan untuk mahasiswa kampus ini. Dari seorang pengusaha besar yang kebetulan salah satu keponakannya bekerja di fakultas kita ini. Hanya saja beasiswa itu tidak diumumkan kepada seluruh mahasiswa. Beasiswa hanya diberikan pada anak yang Indeks Prestasinya bagus. Selama ini, jatah penerima beasiswa sudah penuh. Peluang baru hanya muncul kalau ada mahasiswa penerima beasiswa yang sudah habis masa kuliahnya, sehingga dia sudah tidak bisa menerima lagi ….”

“Kenapa tidak kamu saja yang menerima, Min?” tanya saya.

“Justru itu. Saya sudah dapat beasiswa sebelumnya. Sekarang kuliah saya sudah habis, sehingga sudah tidak bisa menerima lagi. Nah, saya punya kesempatan merekomendasikan seorang mahasiswa untuk menggantikan tempat saya. Saya pikir kamu yang cocok, Wi.”

“Tapi …,” saya merasa ragu.

“Sudah, ambil saja!” si Amin ini terus mendesak saya.

“Tapi, Min, saya kira masih banyak mahasiswa lain yang lebih perlu dari saya,” saya masih merasa ragu untuk menerima. Duh, ditawari beasiswa kok malah nolak, gak salah nih. Tapi memang begitulah yang terlintas di benak saya ketika itu. Walaupun dari keluarga sederhana, saya tidak pernah dididik untuk mengharapkan bantuan dari orang lain. Itulah sebabnya mengapa saya merasa ragu untuk menerimanya. Apalagi saya sudah bekerja, walaupun gajinya belum seberapa.

“Tidak, Wi, saya yakin kamu layak menerimanya,” Amin masih memaksa saya.

“Hmm …, gimana ya?”

“Pokoknya kamu mesti mau!” ujarnya sambil memegang dan menarik tangan saya.

“Lho, kita mau kemana?”

“Saya mau bawa kamu ke keponakan si pengusaha itu, supaya nama kamu didaftarkan menggantikan nama saya.”

Maka saya pun, dengan sangat terpaksa dan rasa enggan (duile, kagak salah nih?), akhirnya didaftarkan sebagai seorang penerima beasiswa. Tidak ada proses lamaran dan interview yang berbelit-belit. Saya cuma perlu melampirkan copy indeks prestasi saya yang memang sudah memenuhi syarat itu. Lalu, jadilah saya menjadi penerima beasiswa. Si pemberi beasiswa ternyata pemilik Hotel Kartika Chandra. Jumlah beasiswanya lumayan juga. Walaupun saya cuma menerimanya selama dua semester, karena kuliah saya ketika itu memang sudah hampir selesai.

Kalau dipikir-pikir unik juga yang saya alami itu. Saya tidak mencari beasiswa, tapi beasiswanya yang datang sendiri. Saya sudah menolaknya, tapi dipaksa juga untuk menerima beasiswa. Memang benar kata orang-orang: Kalau rejeki nggak kemana. 

Alwi Alatas ||| Seorang Penulis yang cukup produktif. beliau telah menulis berbagai macam buku diantaranya adalah serial pahlawan "Al Fatih","Tariq bin Ziyad","Nurudin Zanki". beliau juga menjadi kontributor di Hidayatullah. Buku terbaru beliau disini


Nama

AA,37,Abas,14,Acara,2,AdabIlmu,2,Admin,149,Advetorial,3,Afiliasi,1,Agenda Pengajian,2,Agenda Universitas Indonesia,9,Aksi Bela Islam,4,anak,1,Andi,10,Arif,18,Arjjuna,2,Arti Pendidikan,1,Award,3,bahasa,1,BBM,3,Beasiswa,48,Beasiswa Luar Negeri,3,bedah buku,2,Belajar,3,Belajar Dari Semut,1,Belajar Internet Marketing,1,Belajar SEO,1,benato musollini,1,Berdaulat,74,Biaya Persalinan,2,BINUS University,1,Biografi Pemimpin Muslim,2,Bisnis,11,Blogger,2,Branding,1,Buku,8,BUMN Outlook,1,Buya Hamka,3,Cembung,29,Cerita,8,Cerpen,8,Cinta,4,Coklat,1,CPM,2,Doa Nabi,1,Dompet Dhuafa,3,Donasi,2,Dunia Sepeda,2,Ekonomi,7,Entrepreneur,6,Esai,4,Event,381,Facebook,2,Facebook Marketing,2,FAK,2,Fakta Dunia,1,Fatih,1,Fight,1,Finansial,1,Fisika,7,Forex,1,Forum Indonesia Muda,5,ForumForID,1,Foto,2,Freelance,1,FutureShaper,24,Gambar,1,Gerakan Sosial,7,Ghufron,13,Guru Bangsa,2,HabibRizieq,14,Hadist Pilihan,7,Hanya Allah,1,Hardiknas,1,Hikmah,53,Hit Obat Nyamuk,1,homoseks,1,HotPost,430,HTML,1,Hujjatul Islam,10,Hukum,1,Idul Fitri,1,Ikhlas,1,Ilmu,1,Imam Ahmad,3,Imam Syafii,2,Impian,2,Indonesia,76,Infografis,1,Inspirasi,4,Institut Teknologi Bandung,1,Intelektual,2,Internet Marketing,7,IRF,1,Islam,100,Islam Nusantara,2,Islamic Book Fair,1,Islamic Book Fair 2015,3,isu,1,IT,3,Jakarta,2,Jam Tangan,1,Jazz,1,Jelajah Kampung,1,Jelajah Kampus,1,JIB,2,Job Fair Jakarta,2,Jurnalistik Mahasiswa,2,Jurnalistik.,1,Kajian,2,Kajian Islam,1,Kajian Media,1,Kalimat Bijak,1,Kalimat Motivasi,1,Kampung Sarjana,33,Kampus,3,Karakter Bangsa,2,kartini,1,Karya Tulis,2,kebangkitan islam,28,Kebangkitan Nasional,1,Kejayaan Majapahit,1,Keluarga Baik,1,Kemiskinan,2,kesehatan,2,KH Abdullah Faqih,1,Kimia,1,Kisah,7,Kisah Sukses. Tip Top,1,KisahDai,8,KKG,1,Komentar Jalanan,1,Komersialisasi Pendidikan,7,Kompetisi,10,Kompetisi Islam,1,Konten,1,KreAksiMuda,39,Kualitas Guru,1,Kuliah Audio,15,Kultwit,22,Lari,1,LGBT,2,Logo Marketing,1,lomba,47,Lomba Blog,1,Lomba Film Dokumenter,1,Lomba Menulis,2,Lowongan Kerja,2,LPDP,2,Ma Chung Blog Competition 2010,2,Maaf,1,MadeInIndonesia,3,Mahasiswa,8,Marketing,1,Marwan,1,Matematika,1,Maula,5,Media Belajar,4,Media Islam,1,Media Sosial,5,MedPart,110,Membaca,1,membuat blog,25,membuat konten,1,Menulis,4,Menulis yuk,5,monetize,2,Motivasi,38,Motor Tercepat,1,Mudik,1,Muhammad,1,Muslim Indonesia,2,Nasihat,1,Nasihat Ulama,7,Negara,1,Neoliberalisme,4,ngeblog,1,Nik Abdul Aziz Nik Mat,1,Open Recruitment,1,Opini,82,Pahlawan,62,Pahlawan Indonesia,6,Pahlawan Wanita,1,PahlawanBicaraPendidikan,5,Pameran Buku,1,Pancasila,3,Parlemen,1,Parodi,1,Pejuang,4,Pelajaran Agama,1,Pelatihan Pemuda,1,Pemikiran Khawarij,1,Pemimpin,13,Pemimpin Indonesia,3,pemuda,17,penaaksi,1,Pendidik,3,Pendidikan,74,Pendidikan di Daerah,3,Pengkhianat,1,Pengusaha,1,Penulis Tamu,92,Peradaban,8,Perang Pemikiran,1,perempuan,1,Pergerakan,6,Pergerakan Mahasiswa,13,Peristiwa,12,Perjalanan Hidup,2,Perjuangan,3,Perpustakaan,2,Persiapan,1,Pesan Nabi,2,Pesan Rasulullah,2,Peserta didik,1,Pesta Wirausaha,1,Petisi,3,Photoshop,1,Pidato,1,Pilkada,1,Podcast Orasi Santai,6,Politik,58,Poster,3,PPI UKM,1,Press Release,4,Pribadi,1,Prihatin,1,Proklamasi,1,Propaganda Media,2,Puasa,5,Puisi,12,PUSHAMI,3,Putri,3,Quote,1,Qur'an,3,Rakyat,1,Ramadhan,14,Rasulullah,2,ReflAksi,8,Resensi Buku,37,Resensi FILM,2,Review,5,Review Buku,6,Rezaki,2,RUU PT,2,Sahabat,1,Sahabat Rasulullah,1,Sains,42,Sajak,1,Satir,1,Sedekah,2,Sejarah,11,Seminar,1,Seminar Akbar,2,Sentilan,1,Sepak Bola,1,Shalahuddin,1,Siswa,3,skripsi,1,SmartGenerationMentorship,4,SMP,1,Social Movement,4,Stimuno,1,Store,1,Subsidi,1,Super Camp,1,SyaikhAA,11,Syukur,1,Taklid,1,Tanpa Jil,1,Teater Sastra,3,Tebar Qurban 2014,1,teknologi,6,Template,1,Terorisme,2,Tim Bola Indonesia,2,Tips,2,Tips Menulis,12,Toko Online,2,Tokoh,18,Tokoh Muda,18,Tools Gratis,1,Tridharma Perguruan Tinggi,4,Trisakti,1,Tutorial,1,Udin,2,Ujian Nasional,6,Ulama,6,Umum,59,Unduh,1,Universitas,2,universitas katolik parahyangan,1,Universitas Negeri Jakarta,2,UNJ,1,UNJkita,1,video,4,Wirausaha,6,Wisata,1,Wordpress,1,Yohanes Surya,1,Yotube,1,Zain An Najah,1,Zubair,1,
ltr
item
Belajar Dinamis & Idealis: Kalau Rejeki Nggak Kemana 1
Kalau Rejeki Nggak Kemana 1
http://3.bp.blogspot.com/-P0XNPt4AVCM/UfcUTNppWbI/AAAAAAAAEOw/HFu-qgbzfmg/s320/151.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-P0XNPt4AVCM/UfcUTNppWbI/AAAAAAAAEOw/HFu-qgbzfmg/s72-c/151.jpg
Belajar Dinamis & Idealis
http://www.penaaksi.com/2013/07/kalau-rejeki-nggak-kemana-1.html
http://www.penaaksi.com/
http://www.penaaksi.com/
http://www.penaaksi.com/2013/07/kalau-rejeki-nggak-kemana-1.html
false
5161257070308476956
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy