Kecerdasan Kontekstual Bagi Para Penggerak Perubahan di Abad-21

Oleh: Muhammad Ghufron Mustaqim

Kita perlu ingat bahwa republik ini didirikan lewat iuran kolosal. Saat itu hampir semua pilih turun tangan. Ada yang iuran pikiran, iuran harta, iuran tenaga, iuran darah, bahkan tak terhitung yang iuran nyawa. - Anies Baswedan
Beberapa hari yang lalu, 20 Mei 2013 kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal 20 Mei dipilih karena 20 Mei 1908 merupakan tanggal berdirinya organisasi kepemudaan Budi Utomo yang dinilai sebagai titik balik kebangkitan gerakan nasionalisme di bumi yang merupakan cikal bakal Indonesia. Sebenarnya apabila kita tilik lagi timeline sejarah, Budi Utomo hanyalah gerakan lokal (Jawa sentris), bukan gerakan nasional. Budi Utomo hanya bergerak di daerah Jawa dan anggotanya eksklusif di kalangan para priyayi. Organisasi yang lebih tepat menandakan kebangkitan gerakan secara nasional sebenarnya adalah Sarekat Islam (SI) karena para anggotanya tersebar di berbagai pulau penting di Indonesia dan beranggotakan dari  golongan multi-etnis, dari para priyayi dan pedagang hingga para petani dan orang-orang miskin. Tetapi di artikel ini saya tidak ingin berbicara sejarah gerakan nasional, saya ingin lebih banyak bercerita tentang konteks kesejarahan abad-21 bagi gerakan nasional di Indonesia, khususnya gerakan kepemudaannya.

Sabtu, 18 Mei 2013 saya mengisi acara diskusi yang diselenggarakan Wiratama Institute dan Lingkar Studi Bulaksumur dengan tema “Pemuda dan Kebangkitan Nasional.” Pada kesempatan ini saya memaparkan bahwa permasalahan terbesar mengapa banyak organisasi kepemudaan mengalami kejumudan, stagnansi, dan bahkan kemunduran adalah karena para penggerak organisasi-organisasi ini kurang memperhatikan kecerdasan kontekstual untuk memahami realitas dan tantangan baru di era paska reformasi ini. Diantara mereka masih memegang teguh semangat dan idealisme 1945 dan 1998 yang tentunya kurang relevan dengan narasi kesejarahan abad-21. Saya kemudian menyampaikan realitas dan tantangan baru apa yang kita miliki dan bagaimana kita bisa lebih mengkontekstualisasikan gerakan kita. Beberapa poin yang saya bagi dalam diskusi itu akan saya salin di dalam artikel berikut dan pemahaman saya tentang permasalahan ini terinspirasi dari Dino Patti Djalal dalam pidato pembukaan International Conference on Futurology I.

Apabila di tahun 1945 gerakan kita dijiwai dengan semangat revolusi, maka saat ini kita harus menjiwai gerakan kita dengan semangat transformasi. Apabila dulu yang kita perjuangkan adalah kemerdekaan (independence), maka saat ini berbicara tentang penciptaan kondisi saling ketergantungan (interdependence). Apabila dulu kita berdarah-darah untuk mengusir kolonialisme, sekarang kita harus bekerja untuk bagaimana memanfaatkan globalisasi. Dulu kita menjadi negara dunia ketiga, saat ini kita menjadi emerging economy dan kekuatan regional yang sangat dipertimbangkan di kancah global. Apabila dulu kita cukup memiliki tujuan untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, maka pada abad-21 ini itu tidak cukup lagi, Indonesia harus bisa berdiri diantara yang paling depan dalam pergaulan internasional.

Maka semangat gerakan kepemudaan di era baru ini seharusnya bertransformasi dari gerakan yang memiliki motivasi meruntuhkan dan menjatuhkan, menjadi gerakan yang bermotivasi untuk membangun, berkreasi, dan berinovasi. Gerakan kita tidak bisa lagi membuat perubahan signifikan apabila kita masih menghidupi semangat mengkritik, karena di era baru ini gerakan kepemudaan dituntuk untuk berkarya dan membuat perubahan positif nyata di masyarakat. Tidak lagi relevan apabila gerakan-gerakan kepemudaan masih sesempit bermotif dan benuansa politik serta keagamaan semata, gerakan-gerakan kepemudaan akan survive di abad-21 ini apabila mereka mengedepankan apresiasi terhadap nilai meritocracy, professionalisme, keunggulan, inovasi, akuntabilitas, volunterisme, kewirausahaan, nasionalisme yang sehat, dan kolaborasi.

Memang benar pemerintah harus diawasi dan dikritik apabila berbuat salah, dengan tulisan-tulisan atau aksi demonstrasi. Memang benar bahwa pemerintah lah pihak yang paing bertanggung jawab untuk menyelesaikan berbagai ketidakadilan dan permasalahan di negeri ini karena mereka dibayar dan diberi amahah rakyat untuk itu. Dan memang benar bahwa pola-pola gerakan 1945 dan 1998 masih perlu dilanjutkan, dalam konteks tertentu. Namun menurut saya sikap patriotisme di abad-21 adalah ketika kita, generasi muda, merasa memiliki dan bertanggung jawab atas masalah-masalah di sekitar kita dan kemudian rela menyingsingkan lengan, berkarya nyata dengan kapasitas yang kita miliki untuk membuat perubahan. Adalah sikap yang dewasa dan bijaksana apabila kita berhenti mengeluh dan menyalahakan pihak lain karena masalah-masalah yang kita temui dan menyalakan harapan dengan berikhtiar menyelesaikannya. Bukan sikap pemuda yang utama, apabila hanya mampu menyebar kekhawatiran, kegelisahan, dan kemarahan di antara masyarakat, padahal seharusnya kita memberi konteks, panduan, dan teladan untuk memimpin perubahan.

Menjadi pemuda Indonesia di abad-21 adalah seperti Aldy Haryopratomo. Aldy mendirikan RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda), sebuah perusahaan berbasis teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan akses para pengusaha mikro seperti pemilik warung-warung kelontong kecil agar tidak kalah dari toko-toko modern seperti Indomaret dan Alfamart. RUMA telah melayani ribuan pengusaha Mikro di Cilegon, Serang, Bogor, Bekasi, dan Cirebon. Berkat manfaatnya di masyarakat, RUMA mendapatkan penghargaan internasional dari Harvard Business School, Ernts & Young, Global Mobile Awards dsb.

Menjadi pemuda Indonesia di abad-21 adalah seperti Goris Mustaqim, pendiri ASGAR MUDA. Goris adalah seorang anak muda yang giat mengkampanyekan “Membangun Bangsa dari Desa” dan ia telah menulis buku tentang itu. Ia mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa dengan berbagai latar belakang dan expertise yang berasa dari daerahnya, Garut, untuk turun tangan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, melestarikan kebudayaan, dan menumbuhkan harapan pada adik-adik yang masih sekolah. Goris juga mengawali ITB Entrepreneurship Competition yang telah melahirkan ribuan pengusaha-pengusaha muda di Indonesia.

Menjadi pemudi Indonesia di abad-21 adalah seperti Nadya Saib, yang mendirikan dan saat ini menjadi Chief Executive Officer dari Wangsa Jelita. Wangsa Jelita melakukan riset tentang produk-produk kesehatan yang berbahan bunga-bunga (yang mudah didapatkan di lingkungan masyarakat) dan kemudian diproduksi serta dipasarkan ke pasaran luas. Perusahaannya Nadya melibatkan masyarakat lokal yang mayoritas adalah petani untuk bersama-sama menumbuhkan bisnis. Perusahaan sosial ini membantu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan martabat masyarakat dan kesejahteraan mereka.

Menjadi pemudi Indonesia di abad 21 adalah seperti Megarini Puspasari, yang merupakan salah satu pendiri dan saat ini memimpin HoshiZora. HoshiZora adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Secara konkret HoshiZora membantu ribuan anak di berbagai daerah di Indonesia agar mampu membayar dan melanjutkan sekolah serta memenuhi cita-cita mereka. HoshiZora mengumpulkan dana publik dari para mahasiswa, professional muda, dan para pemerhati pendidikan yang menjadi kakak bintang, dan uang itu kemudian disalurkan kepada adik bintang, para anak yang kurang beruntung. HoshiZora menyalakan harapan bagi anak-anak yang haus akan pendidikan tetapi terancam putus sekolah karena permasalahan ekonomi.

Apabila kita perhatikan teman-teman muda yang saya sebutkan di atas, mereka bukanlah orang-orang yang tidak prihatin dengan Indonesia. Mereka punya banyak alasan untuk mengkritik pemerintah, menyalahkan pihak-pihak sumber ketidakadilan, dan mengutuk mereka yang menjadi sumber masalah. Namun mereka memiliki kelapangan dada, kebesaran jiwa, dan kebijaksanaan untuk tidak melalukan itu tetapi memberikan keteladanan sikap patriotisme dengan mencoba membuat perubahan positif di lingkungan mereka sesuai kapasitas yang mereka mampu. Mereka sadar bahwa republik ini dibangun dari iuran kolosal para pahlawan kita dahulu, dengan harta-benda, keringat, darah, dan bahkan nyawa mereka.  Saat ini, di era baru abad-21, mereka memberi iuran dengan energi, waktu, kreatifitas, dan uang mereka untuk membangun Indonesia yang lebih baik. 

Generasi muda diberi anugrah semangat dan kekuatan fisik yang luar biasa dan tidak dimiliki oleh generasi-generasi yang lain. hayam Wuruk, yang dibantu oleh Gadjah Mada, memimpin Majapahit dan menaklukkan Nusantara pada umurnya yang masih belia. Indonesia ini tidak akan kunjung merdeka apabila generasi muda tidak mendesak golongan tua untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan. Pemimpin reformasi sesungguhnya adalah para mahasiswa, bukan Amien Rais, Megawati ataupun tokoh dari generasi tua yang lain. Dan di abad-21 ini, Indonesia akan menjadi hebat, terhormat, dan menjadi yang terdepat dalam kancah internasional bukan karena presiden, menteri, rektor universitas, ataupun yang lain. Indonesia akan meraih masa-masa emasnya di abad ini karena generasi mudanya yang berjumlah lebih dari 60 juta ini. Oleh karena itu semangat dan energi yang sangat besar generasi muda Indonesia sepantasnya digunakan sebagai modal transformasi bangsa, tidak lagi revolusi. Digunakan sebagai bahan bakar untuk inovasi, bukan lagi mengkritisi. Digunakan sebagai penyulut pembangunan, bukan peruntuhan. Selama generasi muda kita selalu meningkatkan kecerdasan kontekstualnya, kita pantas untuk mengekspektasikan yang terbaik dari mereka.



#FutureShaper adalah program dari Forum for Indonesia yang merupakan edisi tulisan-tulisan tentang kepemimpinan dan manajemen. Edisi ini ditulis untuk menjadi salah satu bahan inspirasi dan diskusi bagi teman-teman yang ingin mengawali petualangan menjadi pemimpin di lingkungan kita masing-masing.

@FutureShaperID | @forumforID | @GhufronMustaqim


Post ADS 1
Banner
Banner