Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

layang-layang

Kala itu ayah dari seorang piatu meninggal dunia, awan hitam pun tentu bersemayam dalam hati anak itu, karena kini ia tinggal sendiri, sebatang kara. esok harinya, paman sebatang kara itu bermaksud ingin mengembalikan kembali sekilas senyum dan seutas asa agar ia kembali menjalani hari yang telah dianugrahi oleh sang Khalik.


Diajaknya anak itu pergi ke sebuah taman, dua sosok itu berjalan menyusuri jalan setapak, tak lama sang paman meminta berhenti dan duduk di tepi jalan. Tampak diam dan kaku anak itu, sepi sunyi kala itu, sang paman memecah kesepian, "ini untukmu!",seraya menyodorkan sebuah layang-layang, dan tersenyum.

Entah apa yang ada difikirkan anak itu ketika itu, bingung dan bertanya-tanya di dalam hati. kemudian anak itu pun bertanya,"Paman, apa maksudmu memberiku layang-layang, sedang kau tahu aku sedang berduka?", kembali paman hanya memberi senyum, kemudian berkata "tentu aku sangat tahu kau sedang berduka, oleh karena itu aku memberimu layang-layang", semakin bingung anak itu, "apa pantas aku bermain layang-layang, padahal kemarin ayahku baru saja meninggalkanku?",ucapnya dalam hati.

Akhirnya paman memberi jawaban yang ditunggu anak itu,
"aku tidak akan menyuruhmu bermain layang-layang sekarang, hanya saja aku ingin kau mengingat ketika kau main layang-layang, saat kau main layang-layang kau pegang erat talinya dan kau pun selalu menatap keatas seraya melihat layang-layangmu kan?",tanya paman.
"analogikan saja kondisimu saat ini dengan kala kau bermain layang-layang, saat kau sedih tetaplah kau memandang keatas, (tegarkan hatimu) hilangkan sedihmu, dan tetaplah kau pegang erat tali layang-layang itu, pegang erat asamu, asa untuk mengejar citamu, tatap layang-layangmu, tatap citamu, kau yang mengendalikan citamu, karena kau yang memiliki layang-layang itu",anak itu berfikir sejenak dan menghela nafas panjang, mulai muncul seuntai senyum dari bibir yang kaku tadi.

Sahabat, kita pasti pernah mengalami kesedihan, kegagalan, ketidak sesuaian harapan dengan kenyataan, dan ketakutan akan masa depan, sama halnya apa yang dirasakan anak tadi. tetaplah tegar,tatap citamu, pegang erat asamu. memang akan sulit ketika kita melakukanya, tetapi mari kita mulai bangun pondasi itu di hati kita. la tahzan wa la takhof, innallaha ma ana, jangan bersedih dan jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.
waallahu'alam.

Inspirasi dari kisah yang pernah saya dengar dengan penambahan dan pengurangan kisahnya.

Ramdhani Purnomo

8.45.84.UNJF.
Post ADS 1