Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masih Terlalu Pagi

Mataku terbelalak. Guyuran suara muazin subuh melafalkan asma Tuhan. Doa ‘Bangkit tidur’ terlantun lembut digetaran bibirku. Kubasuh muka dengan gemericik air kran. Lekas tangisan bayi terraih di saluran dua telingaku. Hidup memang indah, bagi mereka yang merasakan tanpa visi pribadi –yang terkadang jahat-. Air meluap-luap dalam lamunanku. Masih dingin, dan meloncatkan bagian tubuh yang belum tersentuh seluruh nyawa.

“Kau tak lekas kerja, Nyoman?”, bisikku di shaf paling belakang. Setiap selepas shalat, dia selalu mengacak satu halaman mushaf.

“Bagaimana denganmu sendiri?”, entengnya.

“Lupakan!”

‘Kenapa? Pasti kamu ingin segera balik.”

Tidak. Aku ingin membunuh setiap personalia perusahaan besi itu. Batinku kini yang bicara. Kutinggalkan Nyoman dalam duduk silanya yang khusuk. Suaranya yang sumbang masih terdengar sesaat sebelum gesekan halus alas kaki dengan tanah kering.

Luapan marah seperti sudah pada ujung setiap badanku. Di ubun-ubun, jari tengah, dan jempol kaki. Sarapan di Warteg Bu Narsi ialah menu terburuk yang pernah ku-untal. Sambal ijo yang khas Tegal bagian barat, seperti clethong –feses- pertama yang keluar pagi ini di bagian belakang kerbau. Bagian paha ayam, ialah daging haram yang kulihat sendiri cara pemotongannya. Dijagal, dan di-geret keras kepala-tubuh hingga darah mengucur segar di leher yang putus. Aku berteriak kecil.

“Kamu pernah merasakan cinta?”, teman semata wayang ini menjengkelkan. Aku mengangguk setengah ketukan.
“Seberapa panjang cintamu padanya?”, lanjutnya. Seakan semakin senang jika aku semakin mangkel.

Aku menghirup oksigen dalam-dalam. Kepalan mentah tersaji hangat di ujung tangan kananku. Tanpa sadar, tanpa permintaan. Ku-adu dengan mukanya yang kuning daun pisang tua. Dia mati.

Kepala bagian gudang memburu Nyoman. Siapapun yang dapat melihat kepalanya akan segera melapor dan mengucapkan permohonan hibah. Dia hadir di mukaku sekarang. Kerangka kepalan seperti biasa telah siap.

“Dia telah menilep besi pesanan kereta api. Dua juta!” Kepalanku melemah. Kuharap hidung Nyoman kembang-kempis kembali. Darahku memberontak keluar.



Arif Setiyanto

Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis"
Post ADS 1