Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mendidik dengan Teladan

Masalah Korupsi Indonesia sering kali membuat banyak orang putus asa. Korupsi yang membudaya , hukum yang tak berdaya , pemimpin yang kleptomania adalah beberapa kalimat yang sering diucapkan ketika muncul fakta baru kasus korupsi di Indonesia. Banyak orang bilang bangsa ini kekurangan suri tauladan. Padahal bangsa ini pernah melahirkan seseorang yang menjadi panutan. Ia tidak hanya pintar bedialektika , tetapi juga memberi contoh bagaimana seorang pemimpin yang merakyat hidup. Ia adalah Agus Salim “Guru Para Pejuang.”

Salim berasal dari suku Minangkabau. ia berpendidikan barat, tetapi memiliki kelimuan islam yang mumpuni. Pengetahuan salim tentang islam diperolehnya ketika bekerja pada konsulat belanda di Jeddah.

Dizamanya Salim adalah lulusan terbaik Hoogere Burgerschool (HBS) di tiga Kota, yaitu : Surabaya, Semarang , dan Jakarta. Salim menguasai berbagai bahasa asing dengan fasih. ia juga bisa menulis dengan baik, sungguhpun tidak terlalu produktif. Dengan pengetahuanya yang luas, penguasaan agama secara dalam, dan Kemampuan berkomunikasi, ia disegani oleh banyak pihak.

Pendidikan yang tinggi secara barat, memudahkan ia berdialog dengan anak muda yang berpendidikan barat. Ibadahnya yang saleh, kefasihanya berbahasa Arab serta kemampuanya merujuk ke berbagai sumber kitab , membuat Ulama segan terhadapnya. Kesederhanaanya menerima tamu, baik muda maupun tua, menyebabkan orang suka berkunjung kepadanya.

Salim-lah yang Mendorong pemuda muslim Jon Java untuk mendirikan Jong Islamienten Bond (JIB). Karena peristiwa ini ia dianggap orang Jong java sebagai “orang luar” yang datang untuk memecah belah. Salim Melakukan pengaderangnya dalam lingkungan JIB : Ceramah , pertemuan-pertemuan rutin dirumah beliau , dan juga memberi contoh bagaimana seorang pemimpin yang merakyat hidup.

Mohamad Roem Perdana Menteri RI di fase-fase awal kemerdekaan dan juga murid H.Agus Salim pernah mengisahkan dalam tulisanya bagaimana salim hidup merakyat.

Beberapa bulan sesudah kami berkenalan dengan Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, kami mendengar bahwa ia pindah di Gang Toapekong. Kedengarannya agak aneh, Haji Agus Salim pemimpin Islam tinggal di Gang Toapekong. Tapi hal itu tentu tidak ada artinya sama sekali kecuali suatu kebetulan saja. Di gang itu memang ada namanya toapekong, sekarang namanya lain. Letaknya di depan Pintu Besi depan Gereja Ayam. Meskipun rumahnya tidak kurang ebsar dari rumah di Gang Tanah Tinggi, tapi jauh kurang baik. Di Gang Toapekong pernah satu atau dua kali kami berkumpul untuk mendapat pelajaran Agama Islam. Di ruang luar ada meja kursi, tapi di dalam hampir-hampir kosong, dan waktu kami berkumpul di ruang itu kami duduk di atas tikar.Rumah itu menunjukkan rumah keluarga yang kurang berada.
Prof Deliar Noer menuliskan bagaimana sosok Salim hidup merakyat dalam bukunya Membincangkan tokoh-tokoh bangsa :
Salim adalah contoh bagaimana seorang pemimpin hidup tanpa fasilitas mewah. Sampai akhir khayatnya salim tidak pernah hidup mewah, tidak mengeluh dengan keadaan dan tanpa mengurangi gairah perjuangan. Ia pernah tinggal menyewa satu kamar di diaerah pasar baru, jati negara , tinggal dengan anak dan istrinya. di rumah yang sederhana inilah salim menerima anak – anak muda JIB tadi.
Dalam Kuliah – Kuliah itulah para pemuda – pemuda JIB yang kelak akan menggantikanya dalam memperjuangkan meneladani sosok Agus Salim. Hingga akhirnya akan lahir sosok-sosok yang tak kalah sederhana di bandingkan beliau seperti, M Natsir, Kasman Singodimedjo , M Roem, dan tak terkecuali Dwi tunggal Indonesia, Bung Hatta yang juga menghormati sosok Salim. (Baca Juga: Haji Agus Salim Tulisan Mohamad Roem)

Betulah apa yang dikatakan oleh Abu Utsman Al Hairi Seorang Ulama yang zuhud, ia mengatakan: ”Satu contoh perbuatan dari seorang bijak untuk seribu orang lebih efektif dari pada nasehat seribu orang untuk satu orang”.

Kita bisa lihat hari ini betapa seringnya para pemimpin negara menyuarakan penghematan anggaran negara, namun selama Pemimpinya justru tetap hidup hura-hura. Segala upaya iklan, kebijakan, spanduk di jalan-jalan menjadi sia-sia. Karena semua hanyalah bentuk pembohongan Penguasa terhadap Rakyat.

Teladan Buah Kejujuran

Keteladanan adalah buah dari kejujuran. Jujur memang tidak akan pernah bisa diraih dengan kekayaan materi, jujur hanya dapat dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan.
Agus Salim Bersama Soekarno
Tidak Pernah kita melihat H.Agus Salim memasang Spanduk besar di pinggir jalan yang menghimbau murid-muridnya untuk hidup merakyat. Tidak pernah juga ia mengiklankan di media massa , ajakan untuk hidup berhemat. tapi dengan keteladan ia dapat mendidik murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang sederhana. Bahkan sampai saat ini kisah hidupnya menginspirasi kita semua bagaimana seorang pemimpin negara hidup bersama rakyatnya.

“ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff 2: 3)

Muhammad Ihsan , Founder Kampung Sarjana


Post ADS 1