Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pizaro : Gerakan Pemuda dalam Tulisan



Pada zaman sekarang media massa menjadi elemen yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya dalam hal politik , media massa juga berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Pada kenyataanya saat ini dengan “banjirnya” informasi yang disodorkan media massa kepada masyarakat bukan lagi bersifat deskriptif , namun upaya pembuatan opini yang dilakukan oleh para redaksi,pimpinan redaksi, pemiliki media massa dan semua orang yang memiliki kekuatan terhadap media massa. Keadaan seperti ini membuat masyarakat yang menjadi korban , dan khususnya para pemuda yang sedang tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu tim Penaaksi.com berkesempatan mewawancarai Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan penulis buku Zionis & Syiah bersatu Hantam Islam Pizaro Novelan Tauhidi mengenai perang pemikiran melalui media massa.berikut wawancaranya.

Penaaksi.com : Apasih Peran Media Massa terhadap Kehidupan Anak Muda?

Pizaro : Salah satu unsur yang dijalankan oleh kelompok barat adalah ghazwul fikr. Ghazwul fikr ialah cara barat untuk melunakan umat islam , membrain washing anak – anak muda agar kemudian berkiblat ke mereka. Karena barat sadar betul memurtadkan anak muda itu tidak mudah, jadi cukup dijauhkan saja dari agamanya. Salah satu caranya adalah dengan media. Karena media itu bisa membuat , dan mengarahkan opini publik. Karena itu barat adalah pihak yang sangat berkepentingan sekali “menerkam” anak muda melalui media massa mulai dari tontonan , gaya hidup ,dll. Ini yang menjadi concern media massa barat. Apa lagi di Indonesia ada pusat budaya amerika seperti @america yang jelas tujuanya untuk merangkul anak muda , dan hanya ada di Indonesia. Apa yang mereka inginkan dengan adanya @america di Indonesia? Jelas, Karena pemuda islam Indonesia ini sangat berpotensi , dan berperan besar dalam kebangkitan umat islam di dunia.

Bagaimana cara anak muda melakukan literasi media , agar tidak ter-brain washing oleh media?

Salah satu yang mesti dilakukan gerakan anak muda adalah membangun sisi intelektual. Gerakan pemuda saat ini sering hanya bersifat massif namun kosong sisi intelektualitas. Kosongnya sisi intelektual mengakibatkan gerakan pemuda tidak menguasai wacana dan mudah untuk di lunakkan. Berbeda dengan barat yang mampu menguasai wacana karena mereka membangun sisi intelektualitas. Oleh karena itu anak muda sekarang harus cerdas, kritis , dan sebagainya. Pembangunan intelektual lah yang dilakukan tokoh-tokoh muslim ketika muda, seperti natsir ia membaca , ia berdiskusi , dan bahkan kartosoewirjo ketika muda menjadi pemimpin redaksi fadjar asia , kemudian melakukan perdebatan opini dengan soekarno yang masih muda juga. Padahal sekarang media islam banyak sekali sekarang namun masih sangat dari tulisan-tulisan para pemuda. Berbeda dengan kondisi mahasiswa tahun 60an , 70an, 90an mereka mampu menguasai wacana karena ketika mereka bergerak dilandasi dengan sisi intelektualitas berbeda dengan sekarang dimana kondisi pemuda telah terjauhkan oleh barat dari nilai-nilai Islam.

Berarti masalah pemuda adalah belumnya terbangun sisi inteletualitas? Bagaimana cara membangunya?

Ya, pertama dengan budaya menulis. Budaya ilmu tidak akan berkembang ketika ia tidak diikat dengan tulisan. Dimana-mana sisi budaya intelektual selalu berjalan beriringan dengan budaya menulis. Anak-anak liberal ketika saya masih kuliah, sudah mulai digodok dari semester 3 makanya JIL dalam pergerakanya diisi oleh anak-anak muda yang mampu menulis. Sekarang budaya tulisan itu gak ada pada diri pemuda yang ada sekarang justru gerakan-gerakan sporadis dan responsif karena tidak dipersiapkan dengan matang. Padahal sumpah pemuda itu dipersiapkan dengan matang sekali, begitu juga dengan gerakan 60an , dan 90an. Mereka menyiapakan dengan matang.

Kenapa pemuda islam tidak mampu mengimbangi pemuda liberal?

Semuanya karena kita tidak kuat dalam budaya diskusi , dan budaya tulisan. Anak-anak muda kita hanya bisa berdialog dengan lisan saja. Kenapa menulis itu menjadi penting. Karena yang membaca gagasan kita tidak hanya satu orang tapi ribuan. Berbeda dengan dialog di dalam suatu forum.

Ada rekomendasi buku untuk para #MudAksi?

Banyak sekali buku yang bias kit abaca tergantung sisi mana yang mau kita dalami. Dari sisi penguatan ideologi #MudAksi bisa membaca buku Ma'alim fi Ath-Thariq karya Sayyid Qutb. Untuk sisi gerakan bias baca Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin karya Syeikh Hasan Al Banna. Untuk Ghazwul Fikr bisa baca buku karya ust Adian Husaini. Dalam bidang media bisa membaca Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam karya Mohamad Fadhilah Zein. Tetapi hal yang paling penting dalam membaca adalah tidak berhenti pada membaca saja, tapi dilanjutkan menjadi tulisan. Karena hal itulah yang dilakukan Aktivis LDK 80an mereka juga tidak terpecah-pecah “antum dari LDK mana”. Mereka justru saling tukaran kitab dan menelah bersama. Karena budaya inilah yang membuat mereka mampu menguasai wacana.


Rep & Editor : Muhammad Ihsan

Baca Serial #MudAksi lainya pada link berikut : disini
Post ADS 1