Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setelah Musibah

reuters.com
Tidak selamanya hal yang tidak kita sukai berakhir dengan hal yang buruk. Musibah yang kita alami suatu saat pasti akan berlalu. Setelah hujan badai yang keras dan menakutkan, pelangi akan muncul dengan indahnya di ufuk cakrawala. Dan apa yang sering kita sebut dengan nasib sial sebenarnya tidak ada. Ia hanyalah keberuntungan yang belum kita sadari.

Kisah bulan madu Erika dan Stefan Svanstorm merupakan contoh yang menarik terkait dengan hal ini. Keduanya merupakan pasangan Swedia yang menikah pada akhir tahun 2010. Mereka kemudian melakukan perjalanan bulan madu ke beberapa negara. Bulan madu itu tentunya diharapkan akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi keduanya. Ternyata, perjalanan itu memang menjadi pengalaman yang tak mungkin mereka lupakan di sepanjang hidup mereka. Mereka mengalami bencana beruntun di sepanjang perjalanan tersebut!

Kota pertama yang mereka kunjungi adalah Munich, Jerman. Namun mengunjungi Munich pada akhir tahun itu rupanya merupakan pilihan yang buruk. Kota itu dan sebagian besar wilayah Eropa lainnya sedang mengalami badai salju yang sangat hebat. Dinginnya suhu dan buruknya cuaca membekukan kehangatan bulan madu mereka.

Pasangan ini kemudian memutuskan untuk pergi ke Cairns, Australia, dan mengharapkan suhu Australia yang berlawanan dengan Eropa akan dapat menghangatkan dan membarakan kembali cinta mereka. Tapi saat berada di sana, kota itu sedang mengalami badai siklon. Bukannya menikmati bulan madu, mereka terpaksa ikut berlindung dari badai bersama penduduk setempat.

Mereka lalu meninggalkan kota itu menuju Brisbane, masih di Australia. Tapi kota itu sedang mengalami banjir besar. Mimpi indah mereka pun hanyut bersama banjir yang merendam kota itu. Pasangan ini pun pindah ke kota Australia lainnya, yaitu Perth. ’Kehangatan’ kota ini nyaris dapat menyalakan kembali bara asmara mereka. Tapi suhu di kota itu rupanya terlalu tinggi. Pada saat itu Perth sedang mengalami kebakaran semak (bushfire) yang hebat. Sehingga bukannya cinta yang akan membara, tetapi para pecinta yang boleh jadi akan hangus terbakar di dalamnya. Pasangan ini hampir saja terkena bencana. “(Kami) nyaris saja jadi korban. Pohon-pohon tumbang dan cabang-cabang besar berserakan di jalan,” kata Stefan.

Merasa putus asa dengan Australia, pada akhir Februari 2011 mereka pergi ke Selandia Baru (New Zealand). Apakah tempat yang baru ini akhirnya dapat menggetarkan gelora asmara pasangan yang baru menikah itu? Getaran yang diberikan negeri itu memang dahsyat. Terlalu hebat malah. Beberapa saat setelah mereka tiba, negeri itu mengalami gempa 6,3 skala Richter. Selandia Baru mengumumkan kejadian itu sebagai bencana nasional. Mereka lalu pergi menuju Tokyo. Bukannya berkurang musibah yang dialami, mereka justru mendapati getaran yang lebih kuat lagi di negeri Sakura. Saat berada di sana, Jepang mengalami gempa yang sangat besar, hingga mencapai 8,9 skala Richter. Gempa itu diikuti dengan tsunami yang hebat serta krisis nuklir. Ini jelas bukan tempat yang ideal untuk melakukan perjalanan bulan madu.

Setelah semua bencana itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bali. Tapi Bali pun ternyata tidak mampu membuat cerah bulan madu mereka. Kehangatan yang mereka cari tak juga mereka dapatkan di pulau dewata. Selama berada di Bali, hujan turun terus menerus. Dengan demikian dapat dikatakan seluruh perjalanan bulan madu yang seharusnya indah dan romantis menjadi hancur berantakan.

Apa yang salah dengan pasangan ini? Mengapa mereka mengalami gempa dan musibah yang terus menerus di sepanjang perjalanan mereka? Kita tidak mengetahui sebabnya. Tapi terlepas dari itu, nama belakang mempelai laki-laki, Svanstorm, menarik untuk diperhatikan. Dalam bahasa yang digunakan di Swedia (bahasa Swensk), kata ini bisa diartikan sebagai ’badai angsa’. Dan jika dikaitkan dengan bahasa Norwegia (Norsk) yang juga digunakan oleh sebagian masyarakat Swedia, kata ini memiliki makna ’badai kehamilan’. Jadi kalau mereka berkali-kali berjumpa dengan badai saat sedang bulan madu, hal itu cukup terwakili oleh nama belakang pasangan muda itu.

Bagaimanapun, kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Setelah berbagai bencana dan kesulitan yang dilewati, mereka akhirnya merasakan keberuntungan. Dari Bali mereka menuju ke Cina, dan di tempat yang terakhir ini mereka menemukan suasana yang hangat dan sesuai bagi bulan madu mereka. Selain itu, kisah mereka yang unik rupanya diketahui oleh beberapa media masa. Mereka pun ditawari oleh beberapa media untuk diwawancarai terkait dengan kejadian yang mereka alami. Mereka juga diundang ke New York untuk diwawancarai pada program Good Morning America. Bukan itu saja, sebuah agensi pelancongan dari Swedia menawarkan tiket perjalanan gratis bagi pasangan ini untuk berlibur ke Aruba, Spanyol. Apakah mereka jadi ke Spanyol, dan apakah mereka terhindar dari badai dan gempa di negeri itu? Wallahu a’lam.

Dari kisah ini setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita ambil. Jika kita mengalami musibah yang berat atau musibah yang beruntun, jangan menganggap itu sebagai kesialan atau nasib yang sangat buruk. Sabarkan diri kita. Insya Allah pada akhirnya kita akan mendapatkan kemudahan dan keberuntungan. Dan pelajaran kedua, ... pilihlah nama yang bagus untuk anak-anak kita.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Alwi Alatas ||| Seorang Penulis lebih dari 20 buku diantaranya adalah serial pahlawan "Al Fatih","Tariq bin Ziyad","Nurudin Zanki". | saat ini sedang studi doktoral di IIUM. Buku terbaru beliau disini

Red : Ihsan


Post ADS 1