Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tanpa sadar jadi sombong


Sob coba kita renungin lagi deh , kritik terhadap diri kita adalah hal yang lumrah terjadi. dalam rutinitas organisasi , perbedaan pendapat , kekecewaan kinerja , dst biasanya akan dibumbui dengan aktivitas saling kritik.
kritik sangat dibutuhkan sekali untuk perkembangan individu/pun organisasi. karena memang kita itu bukan pribadi yang sempurna. butuh evaluasi, butuh kritik , agar kedepanya jauh lebih baik.
tetapi coba kita ingat-ingat kembali, berapa kali kita bereaksi ketika mendapatkan kritik? terkadang reaksi yang muncul adalah "kesombongan"
"Emang lw udah berbuat apa?"
"Emang lw udah berkontribusi apa?"
"Emang lw ngerti apa, lw kan bukan orang lapangan?"

Kalimat2 di atas sih intinya mau bilang "kalo lw belum pantas ngkritik kita , karena lw belum berbuat apa2 , kontribusi lw kecil , dan lw gak paham dilapangan kayak gimana."
padahal kalo kita mau merenung sedikit. sebenarnya sang pengkritik itu sudah berkontribusi dan berbuat sesuatu kok. perbedaan medan juanglah yang membuat kita tidak tahu apa yang mereka kerjakan. atau paling minimal kontribusi mereka adalah memberikan kita nasihat (kritik).
smile emoticon
Ada yang bilang kalo sahabat terbaik adalah yang menunjukan kebenaran untukmu (‪#‎kesalahanmu‬) , bukan pembenaran terhadap pendapatmu.
toh misalkan memang kritik itu menyakitkan. mungkin tulisan Syeikh Muhammad Al-Ghazali berjudul "jadilah orang yang tahan Kritik." bisa mengobati rasa sakit itu. . silahkan sahabat cari didalam kitab Jaddid Hayatak
Selamat Merenung dan membaca

Muhammad Ihsan*
*Penulis adalah Founder Kampung Sarjana
Post ADS 1