Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Untuk Ibu pertiwi, jangan bersedih hati (lagi)

Membaca baris berita di lembar – lembar harian kota
            Membaca zaman, membaca keadaan
Perpaduan kriminalitas dan tindak amoral yang pamer eksistensi
            Terus menerus menjadi berita utama, tiada henti

Duh Ibu, maaf bila tangismu makin sendu


***

Menilik sejenak ke delapan puluh tiga tahun silam, kala pekik sumpah pemuda membahana
Menggetarkan tiap simpul nadi yang mendengar, gelora semangat yang begitu nyata
            Gaungnya bahkan kini nyaris terlupa, betapa
Satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, begitu katanya
            Tiga frasa yang kini hanya sebatas formalitas upacara tahunan sepanjang nusantara

***

Gemerlap pembangunan berbaur dengan peluruhan budaya asing, menorehkan sedikit cerita
            Tentang pergaulan muda – mudi dalam masanya yang katanya penuh gelora
                        Sedikit lupa akal, lantas lupa moral
            Juga tentang adu kekuatan antar pelajar dalam balutan seragam ilmu
                        Sedikit lupa mana teman mana lawan
                        Saling lempar kesalahan, tanpa mau menjunjung kebenaran
            Naasnya, perpecahan adalah nyanyian keseharian masa kini
mengalahkan dendang kesatuan yang gemanya sembunyi di balik tirani

Ibu, maaf bila nyatanya kami belum benar – benar mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia


***

Kisah pejabat negeri dengan intriknya yang menggelitik, rupanya cukup mengusik
            segerombolan muda – mudi lain yang mengaku peduli politik
Yang muda lempar hina, yang tua tutup telinga. Jadilah !
Kerinduan menemui sosok teladan dalam cermin anggota dewan, sebab kerumitan ini bermula
Entah dengan bahasa apalagi baiknya bicara

Ibu, nyatanya kami tak mahir dalam berbahasa, padahal kami pernah mengaku berbahasa yang satu, bahasa Indonesia


***

Hamparan nikmat Tuhan yang terbentang di sepanjang sabang hingga merauke
            Puncak mahameru dan jaya wijaya yang menjulang jumawa
            melirik kecantikan bunaken dan karimun jawa
            ah, Ibu. Pesonamu tiada dua!
Kini keindahan bumi nusantara menuju saat – saat penghujung
            Sedikit demi sedikit dicuri mega pembangunan
            Sedikit lalu banyak berpindah tangan dengan kelompok asing
            Pelan – pelan ditinggal oleh penduduknya yang lebih bangga tinggal di ranah eropa
            Pelan tapi pasti mulai tidak ada yang peduli
Bila yang berhak dijaga ialah yang dianggap paling berharga, lantas ?

Dan Ibu, kami juga lupa bahwasanya dulu sempat mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia


***

Waktu yang enggan berhenti, memaksa muda – mudi dengan segala keadaan yang ada
            untuk bersiap memegang estafet kepemimpinan bangsa
dengan semangat satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air yang semoga masih tersisa

Ibu, jangan letih doakan putera – puterimu yang seiring bergulirnya waktu semakin melupakan bait – bait sumpah kepadamu.



Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis" 

Post ADS 1