Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berkarya Berdaya Guna (SIA2012)



Bismillahirrahmanirrahim

Berkarya adalah salah satu elemen penting dalam membangun peradaban yang maju. Semua kemajuan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari terciptanya suatu karya yang terakumulasi. Mobil dan motor bisa tercipta karena  Charles Goodyear berkarya menciptakan ban berbahan karet. Karya juga tidak terbatas pada penemuan suatu benda, tetapi juga bisa dalam bentuk teori , metode, dan pemikiran. “Saya dapat melihat jauh ke depan karena , Saya berada di atas pundak raksasa” (Isaac Newton). Newton mengakui bahwa dia dapat menemukan Hukum Fisika tentang gerak karena ada karya orang lain yang Newton jadikan pondasi Hukumnya, dan orang itu adalah galileo galilei. Untuk mewujudkan Indonesia yang jauh lebih baik tentu kita harus mendorong masyarakat Indonesia untuk produktif berkarya, namun ternyata karya saja tidak cukup tetapi ada yang jauh lebih utama yaitu “Ilmu” (pemahaman) tentang Karya.

Hari ini mayoritas masyarakat indonesia mempercayai Kompetisi, Perlombaan , dan semacamnya dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk Membuat suatu karya. Setiap tahun mungkin telah diadakan jutaan kompetisi dan perlombaan dalam berbagai bidang di seluruh indonesia dengan harapan semangat bangsa ini untuk berkarya dapat terbangun  dan memberikan dampak bagi kemajuan indonesia. Menjamurnya berbagai macam kompetisi semakin menguatkan bahwa mayoritas masyarakat indonesia memang percaya kompetisi dapat memberikan dampak kemajuan. 

Kini setelah bertahun – tahun kita lalui , dengan begitu banyak kompetisi, apakah kita sudah mengalami kemajuan yang berarti atau malah sebaliknya ? Harapan yang diberikan ternyata hanyalah semu belaka. Harus kita akui pemahaman dan penerapan kompetisi yang hari ini kita terapkan bukanlah menjadi solusi.  

Paradigma  berpikir ideologi kompetisi yang hari ini dipahami banyak orang haruslah ada pemenenang (winner) dan pecundang (looser). tidak peduli bagaimana kompetisi itu digelar. ketika ideologi kompetisi ini dijadikan basis pendidikan pun hanya akan menghasilkan  pemenang dan pencundang[1].
Ketika ideologi kompetisi dijadikan basis pendidikan maka sesungguhnya pendidikan hanya didesain untuk kepentingan para pemenang, yaitu mereka yang cerdas , pandai, kuat modal ekonomi dan modal sosialnya. Pendidikan tidak didesain untuk orang – orang miskin, tidak mampu, kurang pintar, dan memiliki keterbatasan modal ekonomi dan sosial.

Ideologi kompetisi kemudian akan melahirkan budaya Pragmatis bagi setiap orang. Budaya Pragmatis dalam pendidikan sekarang sudah begitu kuat menancap dalam kehidupan Rakyat Indonesia. kita lihat misalnya banyak masyarakat yang punya persepsi bahwa Membuat karya untuk mengikuti suatu lomba adalah bagaimana mereka bisa menjadi juara dan mendapatkan hadiah. yang dimaksud juara disini lebih banyak dipahami dalam kerangka ekonomi dibanding non- ekonomi. ketika Perlombaan atau kompetisi dipersepsikan sebagai investasi ekonomi, maka tujuan utama Berkarya adalah mendapatkan Hadiah Materil saja. 
Persepsi di atas punya implikasi luas terhadap kehidupan kita. Masyarakat akan cenderung Berkarya dengan tujuan dunia dan menafikkan kebermanfaatan dari suatu karya.sehingga akan terbentuk manusia – manusia yang materialistis, pragmatis dan mental Pak Ogah[2]. 
Menurut pengamatan penulis dilapangan Budaya inilah yang telah melahirkan generasi korup di Indonesia. Paradigma keliru ini terjadi karena kebanyakan orang tidak mengerti hakikat dari berkarya itu sendiri.
Bagi pemahaman penulis segala sesuatu kebaikan yang diperjuangkan oleh seseorang/sekelompok orang adalah proses membuat suatu karya. Kemenangan Islam diperang Badar adalah karya, Fathul Mekkah adalah Karya. Penemuan Kertas adalah karya, Kemerdekaan Indonesia adalah karya, dan masih banyak lagi. Lalu yang menjadi pertanyaan besar apakah Rasulullah, Generasi Sahabat Rasul, Ulama, Pahlawan Kemerdekaan dan para pejuang meminta imbalan dari setiap karya yang mereka perjuangkan ? tentu tidak. Karena mereka tahu hakikat berkarya adalah semata – mata memberikan manfaat untuk banyak orang. Dengan niat ikhlaslah mereka mengalami banyak kemajuan, kebermanfaatan dan kemenangan atas karya mereka.

Jadi sesungguhnya apakah kita boleh mengharapkan, & menerapkan pemberian imbalan ?  K.H.R. Zainuddin Fananie dalam bukunya Pedoman Pendidikan Modern[3] menjelasakan tentang Hukuman dan penghargaan dalam proses pendidikan (berkarya).”Tanamkanlah dalam diri anak bahwa berbuat baik itu adalah suatu kewajiban dan penghargaan itu hanya tanda atau simbol bahwa kebaikanya itu dihargai dan diperhatikan oleh orang yang paham tentang kebaikan[4].”
“Sebaik – baik cara menghukum adalah hukuman natur (thabi’ie) misalnya, anak yang bermain api, terbakar tanganya; anak yang malas mandi , tidak enak tidurnya ; anak yang merusakkan jendela atau tidak mau menutup pintu biliknya, akan kedinginan; anak yang memainkan tinta, kotor pakaianya[5].” Disini dapat disimpulkan bentuk imbalan yang terbaik untuk manusia adalah imbalan yang alami, karena manusia akan lebih terjaga niatnya dalam melakukan suatu kebaikan. Sehingga balasan alami yang terbaik atas karya kita adalah karya kita dihargai dan dihormati banyak orang karena mereka merasakan kebermanfaatanya. Penghargaan dari orang lain ini bisa bermacam – macam bentuknya bisa dalam bentuk materi , doa , pujian , dukungan dll.

Apa solusinya
Jika Kompetisi hari ini hanya memberikan manfaat kepada para pemenang yaitu dengan memberikan hadiah dengan nilai tertentu , kemudian membiarkan karya mereka menjadi usang tanpa pernah ada orang yang merasakan manfaatnya. Kenapa saat ini kita tidak mulai mencoba mengubah paradigma itu semua, bahwa pemenang kompetisi adalah orang – orang yang memberikan manfaat kepada orang lain melalui karya mereka. Biarkanlah secara alami masyrakat memberikan penghargaan atas karya tersebut tanpa kita perlu untuk berharap – harap.

Semua orang yang berhasil dalam karyanya adalah mereka yang totalitas dalam berjuang dan percaya. mereka tidak terbatasi oleh keterbatasan  ekonomi ataupun sosial. Karena Karya adalah sedekah. Sedangkan sedekah itu tidak melihat nominalnya tapi seberapa besar pengorbanganya. Selamat  datang “Kamu adalah Pejuang”.

Sospol in Action 2012 “Aku berkarya untuk IndonesiAku”
Muhamad Ihsan (Mahasiswa Fisika FMIPA UNJ 2009)


[1] Agus nuryatno,Mazhab Pendidikan Kritis. 71
[2] Tokoh dalam unyil yang terkenal dengan kalimat “cepe dulu den”.
[3] Terbit tahun 1934
[4] Pedoman Pendidikan Modern K.H.R Zainuddin Fananie.hal.79
[5] Ibid.hal.80


Informasi Acara : http://sospolinaction.blogspot.com/
Contact Person : 08568936055 (Gita) / 083890445211 ( Dedy )
Email : sopolinaction@mail.com
Facebook : Sospol in Action
Twitter : @siaction2012




:astig:
Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis" 



Post ADS 1