Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mahasiswa, Demonstrasi, dan Perubahan

Mahasiswa, sejak lama menjadi dinamo atas berbagai pergerakan di Indonesia. Sejak usia Indonesia masih begitu muda, kaum intelektual muda Indonesia dari berbagai institusi pendidikan menjadi pengawas langsung atas apa yang terjadi di negeri ini.

Era 1960-an mahasiswa Indonesia begitu kritis dalam usaha mengkoreksi kepemimpinan founding father kita, Ir. Soekarno yang dalam banyak hal dianggap mulai menyalahi jalurnya, sampai akhirnya orde lama berakhir tentu tidak lepas dari usaha mahasiswa yang turun ke jalan pada masa itu. Soe Hok-Gie adalah salah satu motor pergerakan hari itu.

Seperti de javu Orde baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto juga roboh akibat teriakan dan jeri payah mahasiswa yang tak kenal lelah selama berhari-hari. Sejak Mei 1998, hingga sekitar November 1998, Jakarta tak pernah sepi dari demonstrasi dalam usaha menggulingkan Presiden Soeharto, dan hebatnya pemuda hari itu tak lelah untuk tetap mengkritisi pemerintaha awal reformasi dibawah kepemimpinan Presiden baru, BJ. Habibie yang dianggap kurang tegas dalam mengusut berbagai kasus yang melibatkan pendahulunya, Presiden Soeharto. Dan sebenarnya, masih banyak pergerakan mahasiswa, seperti peristiwa malari, pada masa-masa dulu yang begitu besar pengaruhnya pada perilaku mahasiswa hari ini. 

Dengan semangat yang tetap membara , mahasiswa telah menstigmakan, dan terstigmakan, sebagai agen perubahan negeri ini. Berbagai semboyan, nyanyian, dan semacamnya menjadi penangkal surutnya teriakan, dan keringat mahasiswa dalam memperjuangkan apa yang seharusnya mereka perjuangkan. Berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap “keluar jalur” tetap di kritisi oleh mahasiswa. Hal ini memang hal yang positif, mahasiswa berperan sebagai pengawas langsung atas kebijakan pemerintah. Namun, dalam pandangan saya, sebenarnya masih ada hal yang lebih baik, dan efisien daripada demonstrasi-demonstrasi yang seringkali justru lebih menguras emosi kedua belah pihak. Padahal dengan tekanan dan emosi, dapat menggeser objektifitas dalam pengambilan keputusan. 

Sebuah contoh datang dari Soe Hok-Gie dan kawan-kawan, seperti yang ditulis oleh Luki Sutrisno Bekti dalam buku Soe Hok-Gie….Sekali Lagi, pada masa pemerintahan Ali Sadikin, Jakarta kewalahan dengan datangnya calo taksi di bandara kemayoran yang menganggu para turis karena suka menetapkan harga seenaknya, maklum, pada masa itu belum ada taksi berargo seperti sekarang. Ini tentu merugikan, karena bandara kemayoran ialah gerbang masuk bagi para turis ke Indonesia. Nama Indonesia sedikit banyak tercemar, sehingga timbul ide mahasiswa untuk membantu mengatur taksi di kemayoran. Soe Hok-Gie dan beberapa temannya termasuk Luki Sutrisno Bekti, menawarkan diri untuk membantu hal ini. Akhirnya setelah dikendalikan oleh mahasiswa, para calo pun menghilang dari bandara kemayoran. 

Contoh diatas bagi saya adalah sebuah contoh yang begitu nyata, bahwa mahasiswa tak perlu selalu berdemonstrasi untuk melakukan perubahan. Hari ini banyak wadah-wadah yang menampung mahasiswa dan pemuda untuk berkontribusi demi terciptanya perubahan menuju hal-hal positif seperti, Transformasi Hijau, Earth Hour Indonesia, Suara Pemuda Anti Korupsi (SPEAK), Indonesia mengajar dan banyak lagi yang lainnya.

Pergerakan-pergerakan yang nyata dan kreatif haruslah lebih giat di gagas daripada kita terus malakukan aksi protes terhadap pemerintah. Karena, gerakan yang positif dan langsung pada intinya, jauh lebih membantu kinerja pemerintah daripada kita tak henti meneriaki mereka yang lama kelamaan justru akan memberi cap buruk bagi mahasiswa apabila teriakan-teriakan dengan niatan mulia tersebut mulai tercemari emosi dan berujung pada tindakan-tindakan yang bersifat anarkis, dan merusak. Tenaga, keringat dan waktu kita akan lebih membuahkan hasil nyata apabila kita turun langsung menyelesaikan permasalahan, dibandingkan kita menekan pemerintah yang melakukannya. Dan apabila memang perlu kita berdiskusi, berdiskusilah dengan sehat, dengan akal pikiran yang jernih, dan tidak terhanyut oleh ego dan emosi. Karena kita, mahasiswa, dengan cap sebagai kaum intelektual muda yang dipersiakan sebagai pemegang masa depan Indonesia, rasanya tak pantas jika kita tetap berteriak untuk meminta dan meminta pemerintah melakukan yang kita anggap benar. Kitalah yang harus langsung melakukannya! 

Hanindito Danusatya (Universitas Katolik Parahyangan) 
t : @ditosatyadanu
e : dhanindito@yahoo.com

Artikel yang sedang Anda baca saat ini merupakan salah satu kontribusi karya tulis yang dikirimkan ke redaksi Pena Aksi. Ingin berpartisipasi? Ikuti petunjuknya di sini.
Post ADS 1