Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ki Hajar Dewantara : Mendidik Manusia Merdeka


oleh : Muhammad Ihsan ( penaaksi.com)
telah di terbitkan oleh Okezone.com

“Sampai Saat ini saya tidak pernah mendengar nama Ki Hajar Dewantara disebutkan dalam Pembahasan Kurikulum 2013” Kata Darmaningtyas yang menjadi salah satu tim penyusun kurikulum 2013. Sangat memprihatinkan, Sebelumnya Pendidikan kita telah menafikan Agama kini akan meniadakan Sejarah. Banyak yang mengenal Ki Hajar sebatas nama , bukan pemikiran-pemikiranya yang revolusioner. Apalah arti sebuah nama jika kita tidak pernah mengenal apa yang mereka perjuangkan. 



Sebelum Indonesia Merdeka Ki Hajar Dewantara telah memiliki pemikiran pendidikan yang cukup visioner. Buah pemikiran tersebut dapat kita baca pada “Azas Tamansiswa 1922.” Pemikiran itu jika kita telaah ulang masih terasa sangat relevan dengan realita hari ini. Rugi rasanya jika kita membiarkan harta karun ini disia-siakan sedangkan kita asyik merujuk ke Cambridge University. 

Azas ini terdiri dari tujuh pasal yaitu tentang : Kemerdekaan Diri, Kemerdekaan Pikiran, dasar kebudayaan, Kemandirian , Hidup Sederhana , dan Keikhlasan. Ketujuh pasal inilah yang menjadi pondasi dasar Taman Siswa. 

Pada pasal pertama Ki Hajar menekankan kemerdekaan individu untuk mengatur dirinya sendiri. “dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri”. Kemerdekaan ini harus tetap mengacu pada rambu “tertib – damainya hidup bersama”. Kemerdekaan yang Ki Hajar maksud bukanlah kebebasan yang membuat orang lain gelisah. Merdeka juga harus menghormati Hak dan Kewajibang orang lain. 

Ki Hajar sangat tidak setuju dengan pendidikan yang menggunakan perintah, paksaan dan larangan. Bagi beliau pendidikan cara lama ini telah mematikan kodrat alam seorang anak. Seorang guru haruslah tut wuri handayani, beliau menjelaskan tut wuri handayani dalam tulisan beliau tentang pendidikan sebagai berikut : 

Kemajuan yang sejati hanya dapat diperoleh dengan perkembangan kodrati yang terkenal sebagai evolusi. Dasar kodrat alam inilah yang kemudian mewujudkan amongsysteem kita , dalam cara mana guru-guru kita menjadi pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan bersemboyan Tut Wuri Handayani , yakni tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak – anak didik untuk berjalan sendiri. Tidak terus menerus di tuntun” dari depan. Dengan Begitu maka si- pamong” hanya wajib menyingkirkan segala apa yang merintangi jalanya anak – anak serta hanya bertindak aktif dan mencampuri gerak – geriknya apa bila anak – anak sendiri tidak dapat menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam keselamatanya. 
Tut Wuri Handayani yang dimaksud oleh Ki Hajar bukanlah Kemerdekaan peserta didik yang tanpa batas. Seorang guru tetap harus membimbing anak didik agar tetap selamat mewujudkan apa yang anak didik cita-citakan. 

Ki Hajar juga mementingkan Kemerdekaan Berpikir sang anak. Anak didik dibiasakan sejak dini untuk mencari sendiri pengetahuan dengan menggunakan pikiranya sendiri. Anak didik jangan selalu di pelopori untuk selalu mengakui cara berpikir orang lain. Kemerdekaan pikiran inilah yang termaktub dalam pasal dua Azas Taman siswa. 

Kemerdekaan berpikir yang dinyatakan oleh Ki Hajar dewantara bukan kemerdekaan berpikir yang liberal (bebas tanpa batas). seperti apa yang beliau katakana “ Hendaknya jangan pula dipelopori, namun berilah kebebasan secukupnya kepada mereka.” Tapi tidak jelas indikator secukupnya itu apa. Apakah perasaan manusia ? atau menurut Allah SWT ?. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara Menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia haruslah Pendidikan yang memerdekakan Siswa. Pendidikan harus membimbing anak – anak agar menjadi orang – orang yang sungguh merdeka lahir dan batin. 

Kemerdekaan ini sangat perlu diwujudkan ketika masih banyak individu di negeri ini yang belum merdeka seutuhnya. Mereka masih dibuat miskin oleh system ekonomi kapitalis. Masih banyak yang dibayangin ketakutan ancaman PHK, dst. 

Sudah saatnya kita lebih mengenal Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Bukanya hanya sebatas nama. Tetapi lebih dari itu. Apalah arti sebuah nama jika kita tidak pernah mengenal apa yang mereka perjuangkan.


follow me on twitter @ihsanamuslim
Post ADS 1