Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Idealisme versus Apolitisme

Kita bisa melihat bagaimana kondisi Indonesia kini secara keseluruhan, kemiskinan dan kebobrokan moral serta pendidikan menjadi warna – warni yang umum kita temui di keseharian yang rasanya hal-hal tersebut tergeletak begitu saja tanpa banyak yang mau peduli dengan apa dan bagaimana untuk memperbaiki kondisi tersebut, bahkan yang sangat disayangkan adalah banyak yang berkoar menyalahkan pemerintah secara mutlak yang mengeneralisir bahwa semua salah pemerintah, ya memang pemerintah memegang andil besar dalam tanggungjawab ini tapi apakah dengan terus menyalahkan akan merubah?

Ungkapan protes yang timbul dari ketidak sesuaian impian dan kenyataan ini membuktikan bahwa setiap insane memiliki idealism pada perubahan yang lebih baik dari suatu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik dari sebelumnya akan tetapi mayoritas masyarakat pada umumnya hanya berhenti pada idealisme yang berwujud pada tuntutan, ya sekedar menuntut tanpa memunculkan solusi atau bahkan sekedar berpartisipasi dalam wujud solusi yang lebih konkrit dalam mewujudkan perubahan.

Kita bisa ambil contoh dalam sebuah Pemilu Raya di sebuahkampus, yang dimana dari sekian ribu mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut hanya ratusan orang yang ingin secara tulus berpartisipasi dalam rangka mendukung sosok pemimpin mereka di arena kepemimpinan kampus padahal yang menuntut perubahan di kampus tersebut terhitung lebih banyak dari yang ‘rela’ berpartispasi dalam Pemilu Raya tersebut, itu hanya sekedar contoh kecil dalam lingkup sederhana dalam tataran kampus yang notabene miniature masyarakat luas. Sejatinya ketika masyarakat mikro dalam kampus saja berfikir idealis tapi apolitis, maka tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di masyarakat yang lebihmajemuk.

Kita menyadari bahwa masing-masing kita memiliki idealisme yang merupakan fitrah dari Allah Swt untuk cenderung pada kebaikan akan tetapi sikap apolitis yang bisa kita terjemahkan secara sederhana sebagai sikap apatis alias tidak peduli terhadap politik, baik politik itu sendiri maupun segala perlengkapan dan kelengkapannya tentu menghambat terwujudnya perubahan yang diinginkan, bagaimana bisa kita menginginkan perubahantan paada tindakan politis sedikitpun, rasanya tidak mungkin terlebih lagi perubahan yang diinginkan ada dalam ranah pemerintahan yang notabene tidak mungkin ‘bersih’ dari politik.

Apolitisme atau sikap apolitis harusnya kita kikis dan tidak menjadi sesuatu yang kita pegang teguh dalam pola pandang kita terhadap kehidupan yang ada kini, karena bagaimana bisa kita berharap pemerintahan yang mayoritas berpolitik berubah kearah yang lebih baik tanpa ada gerak politik berupa partisipasi dalam rangka mewujudkan perubahan tersebut, rasa-rasanya idealism kita dalam rangka ‘memohon’ perubahan akan menjadi omong kosong belaka.

Maka dari itu sejatinya tidak ada pertentangan antara sikap idealisme yang cenderung pada perubahan kearah yang lebih baik dengan politik yang katanya kotor dan jikalau benar kotor bagaimana bisa bersih kalau tidak ada orang-orang berakhlak dan berfikiran bersih turut andil dalam ranah politik yang ada kini dan sekali lagi kita atur lagi kerangka berfikir kita bahwa tidak ada pertentangan antara keduanya (idealis medan politik) hingga kita mampu berpartisipasi aktif serta kontributif dalamrangka mewujudkan perubahan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(QS. Ar-Ra’d :11)
wallahualam


Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman (Institut Teknologi Telkom)
@em_luthfi


Artikel yang sedang Anda baca saat ini merupakan salah satu kontribusi karya tulis yang dikirimkan ke redaksi Pena Aksi. Ingin berpartisipasi? Ikuti petunjuknya di sini.

Post ADS 1