Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kamu Dah Manteb Nang? #2

Jam empat pagi. Sebelum sholat subuh, kusiapkan semua peralatan tambal, sarapan yang kubuat sendiri, dan sepeda ontel keramat. Jam lima tepat, aku harus berangkat dengan sepeda ontel butut yang sebenarnya sudah tergenang 30-an hari saat agenda banjir-tahunan bulan lalu. Tujuh kilometer berangkat, tujuh kilometer pulang kulalui setiap hari yang kini hampir genap lima bulan.

Pak de memang seorang wiraswasta. Beliau memiliki banyak usaha, salah satunya beliau memiliki sebuah bengkel tambal ban di pinggiran jalan pondok kopi-senen, dekat Kawasan Industry Pulogadung. setiap hari jalur itu ramai oleh para pengemudi motor ataupun mobil, sehingga banyak sekali yang memerlukan jasaku. Terkadang aku harus tidur di bengkel jika badanku tak sanggup lagi, mengaplikasikan kesetimbangan benda tegar.

Yaa, inilah hidupku. Berbeda. Namun aku yakin, suatu saat proses takdir Allah ini akan indah tepat pada waktunya. Hanya masalah waktu, dan hanyalah menunggu hasil manis akan makna kekonsistenan. Ini adalah jalan terbaik yang di berikan Allah kepada hamba-Nya walaupun kuharus mencoba menguraikan rakitan-rakitan mimpi, harapan, dan cita-citaku yang kuciptakan dulu.

Aku harus belajar ikhlas untuk melepas, meskipun pekerjaan ini dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Pernah aku dituduh sebagai oknum penebar paku, sebagai jambret jalanan, bahkan sebagai pengedar narkoba. Aku harus rela menelan ludah perkataan mereka, karena aku merasa tak pernah melakukan pekerjaan sehina itu. Aku merasa, aku masih berjalan pada jalan yang benar dan melangkah tanpa melanggar aturan-Nya sederajat pun. Aku adalah tukang tambal ban, tukang tambah angin, dan tukang bensin eceran. Tak lebih dan tak kurang!

*******

Pagi ini badanku tak seperti biasanya. Lemas dan letih, mungkin ini akibat tak sahur tadi pagi. Memang tak ada uang sepeser pun di sakuku. Kamis yang melelahkan. Sampai sore ini tak ada satu pun pelanggan yang membeli jasaku. Tak banyak yang bisa kulalukan. Hanya bermalas-malasan dan tiduran di bangku-kayu buatan pak de. Dan ini berarti aku harus berbuka hanya dengan nasi tempe buatan bu dhe, yang diantar siang tadi. Selepas berbuka dan salat isya, kembali kuluruskan tulang belakangku di bangku panjang ini. Tak kuhiraukan bengkel yang belum kututup. Dan akhirnya, aku terlelap.

*******

“mas….mas…..bangun mas!”, ucapnya sambil menggerak-gerakan badanku.

“emmm…..iye…iye…...ade apaan sih!” jawabku sekenanya, kukucek mataku.

“maaf Mas, saya mau tambal ban Mas….”, jawabnya.

“wah, nggak bisa tuh pak. Dah tutup! Ini masih buka karena saya ketiduran”, jawabku ,melihat jarum jam yang menunjuk angka satu.

“tolonglah mas, saya dah kemaleman ini. Saya baru saja pulang, mengantar ibu saya dari rumah sakit”, ujarnya mengiba.

“duh… gimana ya pak!”, kataku bingung. Jika aku mengiyakan, badanku tak mau diajak musyawarah. Jika menolak, aku tak enak.

“ayolah mas, saya mohon. Mana ada tukang tambal ban malam-malam gini kecuali mas”, lanjutnya mencoba meyakinkanku.

Sejenakku berfikir, teringat perutku yang sudah berirama gamelan sejak tadi. Lumayan, bisa buat pengganjal usus, kataku. Rezeki kok ditolak! kuwalat nanti.

“yau dah deh pak. Silakan duduk dulu!”, kataku menyilakan.

Kira-kira setengah jam aku bergelut dengan mobil bapak berpakaian biru-rapi itu. Kulihat beliau lebih gelisah dari sebelumnya. Entah apa yang beliau pikirkan. mungkin beliau gelisah akan keadaan ibunya yang sakit.

“dah selesai pak!”, sahutku.

“sepuluh ribu saja pak. Biasanya kalau malam gini yang lain lima belas ribu”, pintaku, sambil merapikan peralatan

“maafkan saya sebelumnya, Mas. Maaf. Maafkan saya. Saya sebenarnya tak punya uang sepeser pun. Uang saya habis untuk membayar sebagian biaya pengobatan ibu saya”, katanya dengan nada penyesalan.

“masya Allah pak. Kenapa tak bilang dari tadi. Saya ini……”, ku lirihkan suara tinggiku, tak selayaknya aku mengatakan bahwa hari ini aku belum kenyang berbuka, karena memang tak ada satupun orang yang membeli jasaku. penjelasan mengenai ibunya yang sakit, membuatku luluh. Ini akan menjadi penambah beban baginya. Toh, jika aku berbicara panjang lebar, bapak ini tetap tak akan membayarku.

“ya sudahlah pak! Saya juga punya ibu, yang sangat saya cintai. Saya yakin, bapak pasti juga cinta kepada ibu-bapak, dan bapak pasti sangat tertekan akan keadaan ini. Kalau begitu, bapak nggak usah bayar, anggap saja ini sedekah dari saya!”, jawabku tenang, yang sebenarnya menata nafas amarah.

Bapak itu pun memelukku erat, dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. entah berapa kali. Beliau pun melangkah ke pintu mobil dan tak tahu lagi kemana arahnya. Cahaya lampu jalan tak cukup menyinari mataku yang sudah redup ini.

*******

ASTAGFIRULLAH. Jam lima! Aku belum sholat! aku belum menyiapkan senjata tempurku! aku belum…...! sejenak kudengar ada yang mengetuk pintu bengkel di depan, dan mengucapkan salam. sepertinya ku agak hafal suaranya.

“walaikumsalam. Sebentar, tunggu sebentar!”, sahutku sembari menbukakan pintu. Dia lagi.

“Maaf mas, maafkan saya, jika saya menggangu.”, bapak itu lagi.

“ada apa lagi yaa, pak?”, tanyaku sopan.

“Ini ada dua paket haji dan umrah untuk tahun ini. Saya tak bisa memakainya karena saya harus menemani ibu saya operasi ke Singapura. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya, ini kartu nama saya. Ini juga alamat pihak manajemennya. Anggap saja ini sedekah dari saya! Saya gak bisa lama-lama. wassalamualaikum”, jelas beliau sembari menyodorkan berkas yang ada ditas kecilnya.

Bapak itu pun melangkah dengan laju mendekati kecepatan cahaya menurut acuanku yang setengah sadar ini, hingga tak terdengar lagi irama klanpot mobilnya. ‘Anggap saja ini sedekah dari saya!’, sepertinya aku pernah mendengar kata itu.

Salam balasnya tak bisa kuucapkan. Seakan suaraku terganjal di selang kerongkongan karena paku bannya. Hanya kehangatan Air mata sujud subuh yang bisa kutumpahkan. Sinar mentari seakan merasuk tepat ke bagan tulang rusukku. Dalam, dalam sekali. Tak henti-hentinya sujud syukurku kuhaturkan pada Mu, Yaa ALLAH.

FABI'AYYI 'ĀLĀ'I RABBIKUMĀ TUKADHDHIBĀNI

Bekasi, 13 juni 2010
Arif Setiyanto |  Kontributor Kolom Cembung PenaAksi[dot]com
Post ADS 1