Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menopang Amanah Langit

"Benar bapak telah 20 tahun tidak memiliki anak?"

"Benar pak"

"Anak ini mahal nilainya pak, peluang hidup keduanya sangat kecil"

"Yang benar do?, mohon pertolongannya bantu kelahiran anak saya"

"Insya Allah, tolong bapak juga bantu dengan doa & dzikir"

*********
Percakapan di atas bukanlah kisah tentang saya. Kisah ini adalah milik pak Mista yang ia ceritakan ketika saya dan tim Kampung Sarjana melaksanakan kegiatan rutin di Kampung Cibuyutan. Rasa syukur mengharu biru di setiap kata yang terucap.

Percakapan itu bukanya dalam suasana tenang dan teduh, tetapi dalam suasana gemuruh batin,& beban pikiran yang menumpuk. Ya simplenya stress berat. Gimana tidak, istri tercinta dan anak yang di nanti-nanti selama puluhan tahun itu di vonis dokter memiliki harapan hidup yang kecil.

Alhamdulillah hal itu terjadi kuasa Allah kembali mengkerdilkan perkiraan dan penilaian manusia. Sang Ibu dan dede bayi sekarang sehat wal afiat. Tinggalah penyakit dampak stress berat yang lari ke lambung. Lambung pak mista kini sakit terus menerus. Dalam pikir saya benarkah seberat itu beban yang harus ditopang?

Itu kisah pak mista, Ia menceritakanya sekitar sebulan sebelum istri saya yang melahirkan. Terus terngiang- ngiang dipikiran, apakah proses itu juga akan memberikan beban yang berat untuk saya? saya pribadi orangnya lumayan tenang, agak nyantai, bisa meledak juga, ya intinya emosi dan pikiran ini cukup terkontrol. pede amat ya.hehe. memang begitu kok gak dibuat-buat.

Hari yang dinanti pun tiba. Ketika proses pendaftaran hingga menjelang istri masuk kamar operasi diri ini masih tenang dan santai. Sesekali terlibat obrolan santai dengan beberapa suami dan orangtua yang juga menunggu istri & anaknya proses persalinan.
Menunggu istri SC
"Alhamdulillah anak saya sudah lahir mas, perempuan. Sekarang istri mas yang masuk kamar operasi"

Seperti mesin diesel perlahan jantung ini mulai panas dan terpompa lebih cepat. Keresahan mulai muncul, pikiran makin ramai, nafas semakin berat. saya coba tenangkan diri dengan berdizikir.

"Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah, Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah, Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah...."

Sesekali zikir ini berhenti sekedar menghibur diri bermain dengan ponakan umur 1,5th yang turut menunggu ummi gita melahirkan dede bayi untuknya. Saya coba kembali untuk berzikir di tengah keramaian anggota keluarga yang hadir menunggu persalinan. terus dan terus.

Seiring zikir otot-otot di tangan ini semakin lemas dan berat, seperti menopang beban berat berjam-jam. Entah mengapa tangan ini begitu lemas, padahal tak ada benda fisik yang ditopang.

Alhamdulillah akhirnya anak saya lahir, tangisanya bergema kencang seorang laki-laki calon pemimpin umat islam. Ku adzani ia dengan hikmat dan syukur, perlahan ia tenang dan tak lagi menangis. Setelah di azankan sang bayi di bawa perawat ke ruangan bayi untuk dilkukan beberapa perawatan.
Zubair bersama Opa
Saya kembali menunggu di tempat duduk yang sama untuk menunggu istri yang masih di dalam ruang bersalin. Tangan ini masih terasa berat dan lemas.  Kupandangi telapak tangan ini yang terus bergemetar kecil. Seberat inikah menopang amanah dari Mu? Seberat inikah mendidik seorang anak manusia? Saya sadari amanah ini bisa menjadikan ia sebaik-baiknya, atau  seburuk-buruknya umat Rasulullah. Tergantung bagaimana kita mendidik dan menjaga amanah yang telah diberikan.

Kuatkan kedua tangan ini ya Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.
Post ADS 1