Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Revolusi Koru(PSSI)

Eksistensi PSSI sebagai lembaga yang independen dan tidak dapat di intervensi pemerintah patut di pertanyakan.apa lagi selama ini PSSI masih ketergantungan terhadap APBD yang notabenenya adalah uang milik negara dan merupakan dana untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.oleh karena itu sungguh tidak pantas PSSI menolak intervensi pemerintah yang menyuarakan isi hati rakyat Indonesia.

Miskin prestasi persepakbolaan Indonesia selama 6 tahun terkahir menunjukkan semakin tidak sehatnya kinerja PSSI di mata pecinta sepakbola tanah air. Runer Up aff cup 2010 menjadi hal yang biasa dikarenakan Indonesia telah meraihnya lebih dari 1 kali yaitu 1996 , 2000 , 2002 , 2004 , dan yang terakhir 2010.minimnya prestasi membuat masyarakt mengingkan adanya revolusi di tubuh pssi denag harapan terbentuk pssi baru yang lebih kompeten dan professional.

Sayangnya Suara hati masyarakat Indonesia yang menginginkan perubahan besar di tubuh PSSI,belum dapat terlaksana.dikarenakan sikap PSSI selama ini yang tertutup dari pihak luar bahkan pemerintah pun tidak memiliki wewenang didalamnya. 

Kepemilikan PSSI saat ini dipertanyakan . Apakah milik seluruh rakayat Indonesia atau menjadi milik segelintir penguasa saja. Selama ini PSSI terkesan menutup telinga atas aspirasi yang disuarakan oleh seluruh rakyat Indonesia.bahkan Menpora Andi malarangeng pun mempertanyakan huruf ‘I’ pada PSSI yang berartikan Indonesia.kata Indonesia di tubuh PSSI menunjukkan bahwa PSSI adalah milik seluruh rakyat Indonesia, dan sudah menjadi kewajiban PSSI untuk mendengarkan aspirasi yang dikeluarkan oleh rakyat Indonesia. 

Ketertutupan PSSI dari pihak luar dikarenakan selama ini PSSI menjadi ladang yang basah untuk meraup keuntungan sebesar – besarnya. Keuangan PSSI diperoleh terutama dari pihak sponsor dan hak siar televisi. 

Setiap tahunya PSSI menerima hak siar televise sebesar 10 miliar.sedangkan uang yang mengalir ke klub hanya 25juta per pertandingan yang disiarkan secara langsung. Uang senilai 10 miliar dapat digunakan untuk membayar sebanyak 400 pertadingan siaran langsung.namun pada kenyataanya dalam setahun siaran langsung telivisi tidak akan mencapai angka 400 pertandingan , dan bahkan jauh lebih kecil dari angka itu. 

Selain hak siar televisi keuntungan dari pihak sponsor pun menjadi ladang korupsi di tubuh PSSI.pada kenyataanya dana sponsor hampir 100% tidak ada yang mengalir ke klub – klub kompetisi kelolaan PSSI.untuk tahun 2010 sendiri sponsor utama ISL (liga persepakbolaan yang dikelola oleh PSSI) menggelontorkan dana lebih dari Rp 40 miliar.diperkirakan total pemasukan dari pihak seponsor sebesar Rp 50miliar. 

Kemunculan Kompetisi tandingan seperti LPI(liga primer Indonesia) yang di cetus oleh arifin panigoro menyadarkan masyarakat bahwa untuk membuat kompetisi sepakbola yang mandiri dan professional bukanlah hal yang sulit.hal inilah yang membuat PSSI menjadi geram, dikarenakan ladang korupsi PSSI terancam hilang jika kompetisi ISL menjadi kompetisi yang mandiri dan professional.


Dalam kompetisi yang professional setiap klub mendapatkan hak siar dan dana sponsor yang jauh lebih besar dari pihak penyelenggara.sehingga para klub sepakbola tidak perlu lagi dana apbd untuk mengelola keuangan klub. dengan pendapatan klub yang jauh meningkat,mempunyai stadion kelas berkelas bukanlah sebuah mimpi,namun dapat segera terwujudkan. 

Miskin prestasi dan Maraknya praktek korupsi di tubuh PSSI semakin menunjukkan perlu adanya revolusi besar di tubuh PSSI.perautarn FIFA tidak dapat dijadikan alasan PSSI untuk menolak intervensi. selama PSSI masih menggunakan APBD sebagai dana kompetisi.pihak pemerintah dan rakyat sangat berhak untuk mengintervensi PSSI. 


:astig:
Admin


Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis"
Post ADS 1