Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sentilan Kecil

Bukan sulap, bukan sihir, Jumat kala itu -sebelum ‘Launching Bukumania’- saya terhipnotis dalam lantunan kata Sang Khatib saat memberikan wejangan sebelum shalat. Perkataan beliau santun, sopan, bahkan pelan. Namun, yang seharusnya saya tertidur dengan nuansa itu, apalagi dalam masjid yang ber-AC, saya malah tercengah oleh materi singkat yang disampaikan beliau. Kebobrokan suatu konsep sopan-santun, tata karma, dan apalah yang berbau estetika, sebenarnya kita sendiri –kaum Islam- yang membuatnya. Ketidakadanya penghargaan kepada ahli ilmu, kita sendiri yang mengarahkan.


Padahal Allah sudah tekankan:
“……Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ……”(QS. Mujadillah: 11)

Dan kini, dengan bangganya kita mengatakan:

“Menurut pendapat Yusuf Qardawi…….”

“Dalam kitab yang ditulis Sayyid Qutubh……”

“Seperti yang pernah diucapkan Hasan Al-Banna……”

Tanpa ada sedikitpun keganjalan saat mengucapkannya, kita malah bangga memanggil beliau-beliau semua tanpa adanya penghargaan. Bahkan ada juga yang mengatakan “Dalam Karangan Ghazali…..”, tanpa Imam! kita sudah terprogram untuk mengatakan “SBY”, bahkan sedikit kikuk saat mengatakan, “Dalam pidato Bapak Susilo……”, “Bapak Bambang Yudhoyono…..”. sangat kaku dan terdengar tak bersahabat untuk diucapkan.

Dimana letak penghargaan kita kepada beliau semua yang saya sebutkan diatas. Adakah sebuah ketakziman akan ilmu mereka yang sudah mengarang karya-karya fenomenal hingga sampai kita pelajari ilmu-ilmunya. Bukankah kehidupan saat ini adalah sebuah pembelajaran mengenang masa lalu. Sebagai contoh, mengapa kita berbicara saat ini. Ya, karena ada orang terdahulu yang mengajarkan kita berbicara. Ketika ada perkataan bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Maka saat ini saya katakan, jiwa yang besar adalah jiwa yang menghargai ahli ilmunya.

Selamat mempelajari ilmu Syekh Yusuf Qardawi, membaca kitab karangan ImamGhazali, dan terjemahan Imam Hasan Al-Banna.



Muhamad Ase’ dan dalam sentilan kecil itu
Post ADS 1