Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Cembung] Muhammad Daffa Al-Fatih (Bag.3)[Habis]

“Maaf mas. Registrasi dulu”, suruh wanita berpakaian serbaputih itu. 

“Pasien atas nama siapa?” lanjutnya. 

“Aduh, mbak. Darurat ini. Saya kerabatnya, saya yang akan menanggung seluruh biaya perawatannya” timpal Irul.

“Iya. Saya dah tahu dari KTP mas. Data pasien yang saya tanyakan.”, katanya lagi. 

Masya Allah. Dalam keadaan seperti ini masih saja ditanya hal yang menurutku tak penting. Tempat tidur derek itu pun mulai mendekat menuju salah satu kamar pasien. 

“Aduh Mbak. Tidak bisa nanti-nanti.” 

“Ini prosedural dari rumah sakit kami.”, balasnya, masih mengejar. 

“Bentar ya Mbak. Tunggu sebentar!”, kataku. 

Kudekatkan wajahku ke telinga Bang Mamat. Tampak pucat saja wajahnya. 

“Bang, Bang Mamat”, cobaku. 

“Ada ape?’’, jawabnya lirihnya 

“Nama abang siapa, Bang? Nama asli abang? Ditanyain suster terus tuh!” 

“Nama gua?” 

“Iya. Buruan Bang!” 

“Muhammad Daffa Al-Fatih.” 

Sejenak semua berhenti. Jarum detik seakan enggan berpaling dari posisi sebelumnya. Aku dan Irul pun saling perpandangan. Aku tak paham apa yang ada di dalam pikiran Irul. Yang ku tahu, aku seratus persen tidak percaya mendengar suara lidah terakhir Bang Mamat. Aku tak salah dengar kan? Muhammad Daffa Al-Fatih. Namaku saja hanya Akhsanul Setiawan. Irul yang bapaknya ustadz besar di kampungnya hanya Khairul Anwar. Kepalaku berpusing seolah berlintasan seperti obat nyamuk bakar yang semakin dalam tak berpusat. Muhammad Daffa Al-Fatih, nama itu masih teringat di memori otakku. Nama terkeren yang pernah kudengar. Mungkin nama preman terbagus seantero jagad alam ini. 

***** 

“Maaf Mas Akhsan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Infeksi Tetanus yang dideritanya bisa dikatakan terlalu parah. Mas Akhsan terlambat membawanya kesini.”, kata Dokter Marwan, nama yang tertera di baju putih panjangnya. Aku hanya tertunduk kecut. 

“Ikhlaskan Mas Akhsan, Mas Khairul!”, sambungnya tenang. Isakan Irul makin kencang. 

Ladang langit masih saja dihiasi benih-benih bintang. Bulan yang bersih dan bulat sempurna seakan mengucapkan bela sungkawanya. Malam yang cerah. Sangat kontras dengan kepingan wajah Irul. Mendung. Lagi-lagi aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Dan lagi-lagi aku hanya tahu. Kami menangis sejadi-jadinya. 

Selamat Jalan Bang Mamat, maksudku Muhammad Daffa Al-Fatih. Terima kasih atas izin dan pengamannya selama ini. Aku akan mengenangmu meskipun aku tak tahu kamu siapa, dan asal usulmu mana. Karena kau sendiri yang tak mengizinkan aku mengetahuinya. Riwayat hidupmu seakan menjadi harta perut bumi yang tak akan pernah tergali. 

Maaf kan kami Bang. Hanya ini yang bisa kami lakukan. 

INNALILLAHI WA INNAILAIHI RAJIUN 

Bekasi, 29 Juni 2010
Arif Setiyanto


Post ADS 1