Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pena Mujahid Dibalik Jeruji

 Kisah para pejuang sering kali identik dengan penjara, buku , dan tulisan. Sangat banyak sekali  tokoh - tokoh yang menulis didalam pengasinganya.sikap ini menunjukkan bahwa api perjuangan mereka tidak pernah padam.

Kita tentu mengenal Ibnu Taimiyyah, ulama besar yang berkali - kali di penjarakan oleh penguasa pada waktu itu tetap menulis didalam tahananya. karena dilarang berfatwa secara lmaka beliau menuliskannya.Sayyid Qutb yang tetap produktif menulis didalam penjara.Semasa dalam penjara, yaitu mulai dari tahun 1954 hingga 1966, Sayyid Qutb masih tetap produkti menghasilkan karya-karyanya. Buku-buku yang berhasil ia tulis dalam penjara adalah "Hâdza al-Dîn", "al-Mustaqbal li Hâdza al-Dîn", "Khashâ`is al-Tashawwur al-Islâmi wa Muqawwimâtihi' al-Islâm wa Musykilah al-Hadhârah" dan "Fî Zhilal al-Qur`ân'(lanjutannya)


Indonesia pun menjadi saksi bahwa penjara tidak akan pernah memadamkan perjuangan para mujahid. Pada tahun 1964-1966 Buya Hamka dijebloskan ke penjara karena dituduh pro Malaysia ketika terjadi konflik Indonesia-Malaysia. Padahal semua orang tahu bahwa ini lebih disebabkan karena beliau adalah orang yang paling keras menentang komunisme di Indonesia. Penjara tidak mematikan semangat menulis Buya Hamka. didalam penjara beliau berhasil menuliskan kitab tafsir Al Qur'an 30 juz yang sangat fenomenal yaitu "Tafsir Al- Azhar".Bahkan hingga saat ini karya beliu sangat berpengaruh dalam sejarah penafsiran Al Quran di Indonesia.

Babad Diponegoro
Selain Buya Hamka ada satu lagi mujahid yang membuat tulisan di dalam masa tahanan. beliau lebih sering dikenang Sebagai seorang Pangeran dan Jendral Perang.beliau adalah pangeran Diponegoro. mungkin hanya sedikit Masyarakat Indonesia yang tahu bahwa Sang Pangeran menulis dalam masa penahananya. Naskah tulisan beliau dapat kamu temukan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. tulisan tersebut menceritakan peristiwa yang terjadi di kesultanan yogyakarta pada masa peralihan kepemimpinan dari Hamengkubuwana II kepada Hamengkubuwana III.

Para Mujahid diatas mengajarkan kepada kita bahwa keterbatasan hidup didalam tahanan bukanlah suatu kekalahan.karena kemenangan hakiki adalah ketika para perjuang istiqomah dalam memperjuangkan Kebenaran Islam.

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali]

follow me on twitter @ihsanamuslim
Post ADS 1