Pengusaha VS Pedagang

Oleh: Muhammad Maula Nurudin Alhaq

Diingat-ingat, ternyata saya berwirausaha sudah cukup lama juga, semenjak SD! Bisnis perdananya membuat rumah hantu di dalam rumah dan pelanggannya adalah anak-anak kecil di sekitar rumah, lumayan pendapatannya, satu bocah dikenakan 500 rupiah sekali masuk. Hingga akhirnya menjalarlah saya coba-coba berbagai peluang bisnis, dari jual minyak wangi di masjid sampai kini menangani beberapa proyek lumayan besar (ehem).

Oke, di tulisan ini sebenernya saya mau bahas mengenai perbedaan pedagang dan pengusaha. Memang beda ya? tergantung sih. Mungkin ini hanyalah perbedaan definisi atau menyangkut terminologinya. Namun, di tulisan ini, saya akan mengambil sudut pandang bahwa pedagang dan pengusaha mempunyai arti yang berbeda.

Kini, saya dapat mendefinisikan bahwa apa yang saya kerjakan saat SD dulu (-membuat rumah hantu) termasuk definisi pedagang. Saya menjual sesuatu, lalu dapat uang. Tidak ada sistem yang rumit, sesimpel menawarkan jasa hiburan dan ditukarkan dengan uang. Tentunya saat itu saya bukanlah pedagang yang sukses, karena bisnis itu tidak sustain, dulu hanya ingin mewujudkan imajinasi dan dapat uang saku berlebih, visinya sebatas itu. Akan berbeda artinya dengan pedagang yang sukses, ia dapat menjual produk secara kontinu. Contoh, ada teman saya yang punya online shop dan setiap bulan produknya laku; kontinu.

Saya pun pernah jadi pedagang; jualan minyak wangi, jualan kaset murottal pengajian, jualan burger, jualan laptop, jualan baju, dan banyak produk yang sudah saya jual. Ya, ada juga produk yang saya jual hingga menembus omset ratusan juta saat kuliah dulu, tapi sekarang saya tahu, dulu saya adalah pedagang.

"Lalu, apa arti pengusaha bagi lu mol?"

Perubahan paradigma ini bermula ketika saya mengalami masa-masa sulit dalam berbisnis, itu sekitar tahun 2011. Saat itu seperti ada dinding besar di depan yang tak bisa dilewati. Entah kenapa, rasa-rasanya saat itu saya sudah menyerah dan merasakan impian yang dibangun hampir puluhan tahun hancur di hari itu. Padahal, semangat selalu ada, keyakinan untuk maju selalu ada, tekad tahan banting juga sudah diperjuangkan. Saya benar-benar bingung.
Akhirnya, jawaban itu saya dapatkan saat melanjutkan kuliah. Saya ternyata mengalami lack of knowledge. Di mana ketika seseorang seharusnya sudah berada di tahapan X, namun ia tidak bisa ke sana karena belum adanya pengetahuan untuk ke sana. Diam di tempat, atau lari-lari di tempat saja. Sedangkan visi kita sudah mencapai tahap Z, ini membuat diri menjadi stres sendiri. Bisnis yang bertepuk sebelah tangan.

Nah, saat melanjutkan kuliah, saya mempelajari ilmu-ilmu fundamental dalam bisnis: Akuntansi, Keuangan, Manajemen SDM, Manajemen Operasi, Manajamen Pemasaran, dll. Benar-benar ilmu. Dan ilmu-ilmu itu jika tidak dipahami maka bisnis kita akan berjalan di situ-situ saja. Istilah teman saya, "Ilmu-ilmu yang sekarang lo pelajari itu jujur mol, mereka ilmu yang jujur dan wise, ketika lo gak menguasai mereka.. ya lo dan bisnis lo nggak bakal kemana-mana.. gue belajar gituan 4 tahun, bener-bener ilmu, bukan kulitnya.. bukan semangat-semangat doang..". Tercerahkanlah saya, jawaban yang dicari akhirnya ketemu. Beban-beban berat di pikiran dan di hati terasa mencair perlahan, tidak beku lagi. Ya, saya melihat visi yang tadinya sudah menggelap kini terang kembali.

Dari sinilah, saya akhirnya membedakan antara pedagang dan pengusaha. Pedagang itu seperti saya dulu, menjual banyak produk, dapat uang, dan terus berdagang entah sampai kapan. Sistemnya pun simpel. Saya ngerti keuangan dikit-dikit (tapi kalau dilihat dengan kacamata ilmu yang jujur tadi sangat memprihatinkan sebenarnya, ini pun dengan ilmu sotoy.. hehe..), diri juga merasa pasti bisa dengan ilmu dan semangat yang ada, pun merasa karena banyak kenalan pengusaha di luar sana pasti juga akan seperti mereka.

Akhirnya saya mulai memahami, mengapa orang-orang kaya makin kaya dan jumlah mereka sedikit. Mengapa banyak orang bisnisnya kok tidak cuma satu, dari bisnis makanan lari ke properti, investasi, dll. Mengapa harus belajar ini-itu lagi, padahal pendapatan perbulan dari jualan produk sudah lumayan kok. Saya jadi teringat kata-kata ini, "Istilah keuangan itu dibuat sulit, karena keuangan memegang peran paling fundamental dalam bisnis, dibuat sulit agar banyak orang malas mendekatinya dan yang ahli hanya sedikit.. yang sedikit itulah yang akan menguasai ekonomi dunia!". Ya, bahkan kalau pendekatannya dengan teori konspirasipun kita bisa mengerti, ilmu ini sengaja dibuat 'mengerikan' agar dijauhi, maka banyak yang mengalami 'lack of knowledge', lebih parahnya: tidak menyadarinya.

Oke, mungkin kita bahas yang lebih 'mikro'nya aja.. simpelnya kita permudah pemahaman perbedaan antara pedagang VS pengusaha ini dengan analogi.

Tahu pedagang bakso? ada kan kita kenal abang tukang bakso yang sudah jualan baksonya selama puluhan tahun masih begitu-begitu saja? masih memakai gerobak yang itu-itu saja dengan warna yang sama? dengan topinya yang sama? dengan tempat mangkalnya yang sama? Ya, saya menyebutnya pedagang.

Tapi pernah lihat juga kan seseorang yang mempunyai berbagai cabang restoran bakso? dulu hanya pedagang bakso, tapi setahun kemudian punya restoran bakso, dua tahun kemudian bukalah cabang di mana-mana, tahun berikutnya ia melakukan diversifikasi asset ke properti, emas, saham, dll. Nah, itulah yang saya maksudkan sebagai pengusaha.

Mengapa bisa berbeda? sampai saat ini jawaban yang saya temukan adalah karena perbedaan knowledge di antara mereka. Semangat, keyakinan, dan tekad saya yakin antara pedagang bakso dan pengusaha bakso keduanya sama.

Jelas jawabannya semua orang juga tahu: "Knowledge, iya knowledge! gue juga tahu kalau itumah! Nggak usah dikasihtauin!". Tapi, walau sudah tahu banyak yang nggak sadar bahwa dirinya mengalami lack of knowledge. Dia merasa mengerti ilmu akuntansi, keuangan, manajemen, dll lewat seminar motivasi atau buku-buku saja. Tidak, tidak setipis itu ilmu untuk benar-benar jadi pengusaha.

Ya, saya setuju selain knowledge, kalau mau jadi pengusaha mentallah yang harus dibentuk atau jaringan yang harus makin diperluas, memang itu yang utama (berhubung saya juga dulu basicnya desain grafis jadi asing dan gak mau deket-deket sama istilah ekonomi yang bikin pusing). Tapi saya di sini coba menyampaikan dengan melihat dari sisi lain yang dirasa juga penting, agar apa yang saya alami saat dulu dapat dihindari dan lebih cepat sadar bahwa diri telah mengalami yang namanya: lack of knowledge.

Sebenarnya jujur, saya miris juga dengan diri saya dulu yang mungkin saat itu sudah mengalami gejala megalomania, "Ngapain gue belajar ekonomi, keuangan, dan hal-hal ribet lainnya bertahun-tahun... ikut seminar aja, atau tanya-tanya temen yang jurusan situ aja.. ntar juga ngerti sendiri kok... lulusan SD aja banyak yang sukses.. Steve Jobs aja D.O..". Ah, alasan yang sangat sesat pikir. Menggampangkan masalah dan juga latah mengklaim pembenaran tentang kesuksesan Steve Jobs, padahal setahu saya Steve Jobs ternyata adalah anak jenius yang dari kecil sudah berkarya dan orang yang lebih tua tidak bisa membuatnya. Yasudahlah, semoga ini semua menjadi pelajaran.

Lalu, pertanyaan terakhir... saat ini... kamu termasuk apa? pedagang atau pengusaha?

*Creativepreneur
Juara 2 Nasional “Mandiri Bersama Mandiri (MBM) Challenge” 2012 kategori Industri Kreatif
Mahasiswa D4 Kewirausahaan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB | t: @maulaozier

Buat Kamu yang ingin konsultasi, kirim pertanyaan ke penaaksi@mail.com , dengan subjek ‎ #KonsultasiBisni‬s
Post ADS 1
Banner
Banner