Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Manajemen Bencana

Hari Jumat (11/03/2011),Gempa tektonik 8.9 SR mengguncang negeri sakura (dibaca : Jepang).Gempa ini menghasilkan tsunami setinggi 10 meter yang melanda kota sendai dan sekitarnya.jika kita membandingkan secara fisis tentu saja tsunami jepang jauh lebih besar dari tsunami aceh tahun 2006.namun melihat realitanya tsunami aceh lebih banyak memakan korban jiwa.minimnya tingkat kesadaran mitigasi bencana di indonesia menjadi penyakit berbahaya,apalagi indonesia adalah negara yang rawan bencana seperti jepang.

Kondisi geologi indonesia yang terletak di antara lempengan Eurasian,Australia, dan pasifik menjadikan nusantara daerah yang rawan gempa. pergerakan ketiga lempengan dan 130 gunung api aktif di tanah air membuat negara ini menjadi kawasan aktif. 

Masih teringat dalam ingatan kita gempa 7.6 SR yang meluluh lantahkan tanah minang menunjukkan masih minimnya program mitigasi bencana di indonesia.padahal gempa di tanah minang bukanlah yang pertama di indonesia sejak 2004.gempa Yogyakarta dan tsunami di aceh seharusnya menjadi pelajaran pemerintah untuk melakukan penerapan program mitigasi bencana Lebih awal. 

Menurut UU no 24 tahun 2007 tentang penanggulanan bencana,mitigasi dalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman suatu bencana. Dua aspek ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) seluruh rakyat indonesia melihat masih banyaknya bangunan rawan gempa dan minim kesadaran bencana. 

Memulainya dari Instansi Pendidikan 

Banyak tahapan pencegahan dan mitigasi bencana yang dapat dilakukan suatu negara.salah satunya adalah dengan memasukkan program manajemen bencana dalam kurikulum pendidikan. Pemberian materi Manajemen bencana dapat terintegralkan dengan mata pelajaran disekolah, ataupun dengan penambahan mata pelajaran khusus dalam muatan lokal sesuai dengan keadaan geografis masing – masing daerah. 

Mencontoh dari negeri Jepang, Pelajar Setingkat shogako (sekolah dasar) berkewajiban untuk mendatangi, mengenal,dan mengikuti simulasi pencegahan bencana di pusat pencegahan.semua itu diintegrasikan dengan kurikulum wajib belajar 

Kondisi di indonesia saat ini Para guru hanya mengajarkan jenis-jenis gempa dan penyebab gempa , tanpa mengajarkan mitigasi bencana atau cara-cara menghadapi bencana kepada para siswa. Dengan demikian, ketika terjadi bencana, Para guru sibuk meminta bantuan tanpa membantu siswanya. 

Pendidikan Manajemen bencana di sekolah sangat bertujuan untuk membentuk generasi muda yang sadar dan siap menghadapi bencana.para pemuda di harapakan menjadi leader dalam manajemen bencana mulai dari perencanaan siga,pencegahan,tanggap darurat hingga rekontruksi bencana. 

Dalam pendidikan Manajemen bencana perlu beberapa pengetahuan dasar dalam menghadapi bencana.terutama jalur – jalur evakuasi bencana.seperti pengunaan pintu darurat di dalam gedung,dan juga tempat evakuasi yang aman saat bencana terjadi.



Pengetahuan Tentang Jalur evakuasi kian diperlukaan untuk mengetahui cara penyelamatan diri yang aman dan tidak panic saat menggunakan tangga darurat dan tentu saja dapat mengurangi kemungkinan jatuhnya korban jiwa. Peristiwa hotel Ambacang di padang yang tidak mempunyai tangga darurat adalah dampak dari minimnya pengetahuan tentang jalur evakusi bencana di indonesia. 

Melihat Kondisi di indonesia saat ini.sangat diperlukan komitmen secara nasional dari pemerintah dan juga pihak swasta untuk melaksanakan dan menerapakan pendidikan manajemen bencana di indonesia.Kesinambungan program harus dilakukan setiap saat,tidak hanya dilakukan setelah terjadi bencana,namun juga ketika tidak terjadi bencana.pada akhirnya komitmen seluruh rakyat indonesia untuk kontinyu dan menyeluruh menjadi kunci keberhasilan dalam menyelenggarakan pendidikan manajemen bencana di indonesia.


follow me on twitter @ihsanamuslim
Post ADS 1