Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Batu Dibalik Udang (Salahkah?)

Akhir-akhir ini, Negara kita dikejutkan oleh fenomena-fenomena yang menyita perhatian kita untuk sejenak memperhatikan, atau bahkan mengomentari dengan bahasa yang sedikit sumbang. Mulai dari ‘Bom Buku’ yang kini sudah tak terdengar lagi gaungnya, seakan tergilas oleh isu-isu lain yang jauh lebih baik seperti terlibatnya salah personil band dalam kasus narkoba. Tak kalah seru Fransisca Anatasya Oktafiani alias Icha alias Rahmat Sulistyo yang resmi menjadi pasangan suami-istri Umar. Tak mau kalah Melinda yang jelita dengan bangganya di camera digandeng oleh seorang aparat, seakan memberitahukan kehebatannya. Berita geger yang memilukan datang dari dua kampung di Probolinggo yang diserang ribuan ulat bulu, menyerang pepohonan mangga kebanggaan mereka hingga akhirnya berita itu tergencet dengan aksi ‘gila’ Briptu Norman Kamaru bersama lagu, “Chaiyya, Chaiyya”, dan terakhir tak kalah heboh aksi DPR yang saat paripurna dalam keadaan pariporno.

Sebungkus cerita itu, memberikan warna kerancuan di Negara kita ini. Sebuah belati pikiran harus kita tancapkan untuk mengelupas bungkusan demi bungkusannya. Benarkah, separah ini pemuda masa depan dengan bangganya menggunakan narkotika dengan alasan sebuah kepuasan ketenaran. Sejorok inikah moral bangsa dengan busung dada menyamar menjadi wanita untuk menipu dan dinikahi sesama jenisnya. Dan yang memilukan sekaligus memalukan, sebuah negeri dihinggapi ribuan ulat bulu yang sepertinya protes pada kita –manusia-, yang kata para ahli dan pakarnya, sudah tak ada lagi predator pemangsa ulat bulu. Bisakah kita membuka mata hati dan sejenak menutup mata lahir, bahwa Tuhan memperingati kita! Yaa, karena kasih sayang Allah melebihi Kemurkaaannya.

Dan terakhir, sebuah pasar kapitalis mengajarkan kita untuk bagaimana dengan mudah sukses, kaya secara instan, terkenal fenomenal hanya dengan usaha bergaya di depan camera dan menyebarkan lewat dunia maya, dan dengan dahsyatnya seluruh media menyorotinya dengan maknn tersirat dia telah berhasil menjadi terkenal. dan kita masih saja terbayang dengan pikiran kosong betapa bahagianya jika yang terkenal itu adalah saya.
Sebuah omongan kosong!

Separah inikah Negara kita? Bobrok dan hancur? Dan patut Tuhan berikan hinaan? Tidak kawan!

“Atas Nama Kekuasaan dan Keagungan-Ku. Seandainya bukan karena orang-orang tua yang selalu ruku’, anak-anak kecil yang menyusui, dan binatang-binatang yang merumput, pasti Aku akan cegah setetes air hujan dari langit (Hadist Qudsi)

Sangat lazim ketika Ebith G Ade mengatakan, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Yaitu orang-orang yang selalu senantiasa berzikir –mengingat Allah- dalam keadaan apa pun.


Muhamad Ase dan Batu di balik Udang
Post ADS 1