Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perubahan pada Kecerdasan dan Otak Manusia

Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah seminar tentang remaja, seorang psikolog muda menjelaskan bahwa banyak psikolog cenderung memandang bahwa karakter dan kecerdasan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetika, yaitu sesuatu yang bersifat menurun, bukan sosial. Kalaupun ada pengaruh sosial, maka hal itu tidaklah signifikan. 

Saya agak terkejut mendengar pendapat ini. Jika hal ini benar, maka betapa deterministiknya perjalanan hidup seorang manusia. Kecerdasan dan karakternya merupakan sesuatu yang given, ’dari sananya’ kalau kata orang Jakarta. Mereka tak mampu berbuat banyak untuk mengubah hal itu dalam perjalanan hidupnya, karena ia bersifat genetik. Kalau mau mengubahnya, mereka mungkin perlu melakukan suatu rekayasa genetika.

Sejak awal saya tidak merasa cocok dengan pendapat ini. Faktor genetik memang tidak dapat diabaikan. Tapi apakah lingkungan sosial dan pendidikan tidak dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kecerdasan dan karakter manusia? Saya percaya lingkungan, pendidikan, dan latihan yang teratur juga dapat membentuk perkembangan otak manusia, terutama pada masa usia awal dari perkembangan manusia. Hanya saja, saya tidak memiliki data dan bukti penelitian tentang itu.

Namun baru-baru ini, ada sebuah penelitian yang menjungkirbalikkan pandangan banyak orang tentang kecerdasan (IQ). Selama ini kita diberitahu bahwa IQ (Intelligence Quotient) seorang manusia cenderung tidak mengalami perubahan pada sepanjang hidupnya. Ia merupakan sesuatu yang given dan relatif stabil. Anak yang cerdas akan tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Anak yang bodoh akan berkembang menjadi orang yang bodoh. Apakah seseorang yang cerdas menggunakan kecerdasannya dengan baik dan menjadi sukses dalam hidupnya, itu merupakan hal yang berbeda. 

Yang jelas, IQ dianggap sebagai sesuatu yang tidak mengalami perubahan dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam hidup seseorang. Tapi penelitian yang dilakukan belum lama ini mengungkapkan fakta yang berbeda. Para peneliti menemukan adanya perubahan kecerdasan yang sangat besar (huge swings in intelligence) pada anak-anak usia remaja. Sebagian hasil penelitian ini diungkap dalam surat kabar The Sun (25 Oktober 2011, hlm. 30).

Pada tahun 2004, beberapa peneliti Inggris melakukan tes terhadap 33 remaja berusia antara 12 dan 16 tahun. Tes yang diberikan adalah tes IQ standar, ”verbal” (bahasa, aritmatika, daya ingat, pengetahuan umum) dan ”non-verbal” (identifikasi bagian gambar yang hilang dll). Selain menjalani tes IQ, anak-anak ini juga dites dengan menggunakan scanner MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat gambar otak mereka dalam bentuk 3 dimensi (3D). Semua hasil pengukuran ini disimpan oleh tim peneliti.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2007 dan 2008, penelitian kembali dilakukan terhadap remaja-remaja yang sama. Anak-anak yang umurnya kini telah tiga atau empat tahun lebih tua itu kembali menjalani tes IQ dan tes dengan scanner MRI. Hasilnya sungguh mengejutkan. Sebagian remaja tidak mengalami perubahan IQ yang berarti. Tapi sebagian yang lain mengalami kenaikan, atau penurunan, IQ hingga 20 poin. ”Some subjects performed markedly better but some performed considerably worse,” kata Sue Ramsden dari Wellcome Trust Center for Neuroimaging pada University College London (UCL). Saat gambar scan otak mereka diteliti, didapati adanya perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun itu. 

”Kami menemukan adanya hubungan yang jelas antara perubahan kemampuan (dalam menjalani tes IQ) ini dan perubahan pada struktur otak mereka,” kata Ramsden, “dan karenanya dapat dikatakan dengan cukup pasti bahwa perubahan IQ ini merupakan sesuatu yang nyata.”

Apakah otak manusia hanya dapat mengalami perubahan signifikan pada masa-masa remaja saja? Kelihatannya tidak. Hal ini tampaknya juga dapat berlaku pada orang-orang dewasa. Penelitian lainnya menunjukkan adanya sifat kenyal/ liat (plasticity) pada otak manusia yang memungkinkan terjadinya perubahan struktural sepanjang kehidupan seorang dewasa. Tes atas seorang sopir taksi di London memperlihatkan bahwa ia memiliki hippocampus yang lebih besar. Hippocampus merupakan titik sentral untuk kemampuan navigasi dan memori. 

Hal ini membuat Cathy Price, seorang professor di UCL, mengajukan sebuah pertanyaan mendasar, “… jika struktur otak kita dapat berubah pada sepanjang masa dewasa kita, apakah IQ kita juga dapat berubah?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya, “Saya kira, ya. Ada banyak bukti yang menyarankan bahwa otak kita dapat beradaptasi dan strukturnya dapat berubah, bahkan pada masa dewasa.”

Saya kira, saya juga setuju dengan Anda, Prof. Price. Hasil penelitian ini lebih melegakan dibandingkan pandangan deterministik yang selama ini kita terima. Ini memberi kesempatan pada seorang manusia untuk memilih dan berupaya, apakah ia ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, termasuk dalam hal kecerdasan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Alwi Alatas ||| Seorang Penulis lebih dari 20 buku diantaranya adalah serial pahlawan "Al Fatih","Tariq bin Ziyad","Nurudin Zanki". | saat ini sedang studi doktoral di IIUM. Buku terbaru beliau disini



Post ADS 1