Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kala Itu, Waktu Kecil

Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Kalimat itu termaktum jelas tanpa cacat dalam kitab sakti mandraguna Negara ini. Seakan hukumnya fardhu ‘ain untuk diyakini setiap personal yang ingin dianggap keanggotaan sebagai warga negara. Teramat sangat mulia sekali budi baik Negara –kelihatannya-, dikalimat selanjutnya diruncingkan Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Bahkan negara menggembar-gemborkan kampanye pendidikan yang bersemboyan “Ayo Sekolah!”. Seperti puluhan helai sayap malaikat jatuh di tanah Indonesia, Negara kaya ini hadir memberikan jaminan yang menggiurkan kaum alit macam kami. Sebuah perkataan cemerlang pun pernah dilontarkan Sang Maestro filsafat Yunani ternama, uwakPlato, Lebih baik tidak terlahir daripada tidak terpelajar, karena kebodohan merupakan akar dari kemiskinan.


Aku yang kala itu masih berusia enam setengah tahun, merengek dibawah ketiak bapak yang dilumuri peluh keringat karena baru saja pulang dari ngerek[1] padi di sawah warisan eyang buyut, meminta sedikit memaksa untuk disekolahkan di SD terfavorit se-kecamatan. Namun, dengan bentakan terbungkus kelelahan bapak memberikan sanggahan yang tak begitu logis dan tak bersinergis dengan kitab sakti, tak pantas orang miskin sekolah, pastilah guru di sana menolakku hanya dengan satu lirikan ke berkas kumal yang sudah simbok siapkan sejak aku wisuda TK empat hari yang lalu. Mungkin jika kala itu isi otakku sedikit encer, pasti aku bantah argumen bapak dengan meminjam ucapan Sang seniman opera, Beverly Sils, Kita mungkin kecewa saat gagal, tetapi kita akan lebih menyesal jika tidak pernah mencoba. Namun, lagi-lagi kala itu aku hanyalah bocah ingusan yang untuk kencing pun masih dituntun simbok. Aku harus berhenti menangis dengan terpaksa dan beralih ke tempe bosok[2] yang sudah dilumuri sambel bawang kecap untuk memperoleh tenaga karena besok ialah hari pertama penerimaan murid baru SD Desa Tegalombo[3] yang penyanggah bambunya lebih banyak dari tiang sebenarnya. temboknya terkikis lumut dan cendela kawatnya mulai karatan. Letaknya pun amat strategis, di pinggir sawah. Tempat berteduh para petani setiap menyantap bekal kala siang. Mana sanggup sekolah ini menopang rajutan mimpi besar dan menjadi tumpuan masa depanku. Dan kesimpulan yang dapat ditarik, kemiskinanlah yang harus bertanggung jawab, karenanya aku menjadi bodoh!

*****

Langit setelah subuh terasa teduh. Para petani sudah siap dengan ani-ani[4] untuk menuai padi. Jerami padi ketan sudah lunglai seperti crop circle yang dirancang alami oleh angin. Semua bergembira. Pagi buta merupakan pembagian waktu yang paling mereka suka. Selepas bangun aku meraih gagang sapu di emperan rumah, siap merampas resak[5] dari puluhan ulat yang menggerogoti. Aku terdiam di batu besar yang memalaskanku. Terkadang menjawab salam sapaan para petani yang tergopoh-gopoh membawa bekal untuk persediaan makan sehari penuh.

Sipar koplak[6] ngandi?”, Sapa Mas Nana tiba-tiba melintas pelan, memanggil bapakku dengan bangga tanpa sopan. Aku hanya menoleh, tak kubalas.
 (Bersambung)

[1] Ngerek=memanen padi, sejenis selepan, yaitu alat untuk memisahkan jerami dengan padi, berbunyi ‘erek, erek’, maka disebutlah ngerek padi.

[2] Tempe busuk.

[3] Sebuah Desa kecil di kecamatan Wuryantoro, Wonogiri.

[4] Alat untuk menuai padi ketan

[5] Sampah daun-daunan yang sudah tua

[6] Goblok, bodoh, dungu


Arif Setiyanto

Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis"
Post ADS 1