Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenaikan BBM dan BLT adalah Wajah Neoliberalisme


Kebijkan Kenaikan BBM bersubsidi yang akan di tetapkan  pada 01 april 2012 mendapatkan pertentangan keras dari berbagai elmen masyarakat,kebijkan ini belum diterapkan namun sudah menimbulkan berbagai persoalan,mulai dari naiknya harga pangan hingga maraknya aksi penimbunan BBM hampir diseluruh daerah.keadaan ini semakin memperburuk keadaan,dan tampaknya pemerintah memang belum siap  baik dalam antisipasi ataupun persiapan kenaikan harga BBM itu sendiri.


Naiknya Harga BBM di sebabkan melonjaknya Harga minyak mentah dipasar international yang terus menanjak hingga lebih dari 104,70 dollar AS per barel, dipicu oleh memanasnya suasana di Iran dan Timur Tengah yang notabene negara penghasil minyak didunia.

Kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut berdampak pada pembengkakan APBN dimana pada APBN 2012 harga minyak diasumsikan 95 dollar AS per barel.Pemerintah Berasumsi tidak semua rakyat kecil dapat menikmati Subsidi BBM.Subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh pabrik-pabrik, industri-industri besar ataupun dinikmati oleh orang-orang kaya meskipun pemerintah sudah  melaksanakan program subsidi langsung ke rakyat kecil.

Menurut Anggota Komisi VII dari Fraksi Golkar Satya W Yudha Jika Pemerintah jadi meNaikan harga BBM menjadi Rp6.000,- negara akan  menghemat (subsidi BBM) 57 triliun, tapi 12 bulan. Dikurangi 4 bulan itu sekitar 38 triliun.sebesar 25 Triliun dari hasil penghematan akan digunakan untuk BLT,sehingga sisa penghematan diperkirakan hanya sekitar 13 Triliun saja.

BLT dilinilai adalah solusi praktis pemerintah untuk melepas tanggung jawab kepada rakyatnya.karena BLT hanya dilakukan untuk jangka waktu yang singkat atau beberapa bulan saja,lalu pemerintah akan lepas tangan dan menyerahkan semua keadaan ekonomi kepada pasar.dalam hal ini pasar yang di dominasi oleh asing.
Dampak dari rencana pemerintah menaikan harga BBM sudah terasa sebelum kebijkan itu diberlakukan.mulai dari penimbunan BBM di berbagai daerah,hingga naiknya harga pangan di pasaran adalah bukti pemerintah tidak siapnya pemerintah untuk mengantisipasi atau memberi solusi dari kebijakan yang akan ditetapkan.

Analisis pemerintah bahwa BBM bersubsidi lebih banyak di konsumsi oleh orang – orang  kaya perlu dikaji ulang.mobil dan motor saat ini tidak dapat dijadikan alat legitimasi orang – orang mampu.pada kenyataanya ditengah maraknya usaha kredit kendaraan bermotor memudahkan masyarakat untuk mempunyai motor dan mobil.mulai dengan Down Payment (DP) Rp500ribu hingga tanpa DP mudah sekali untuk didapatkan.pada kenyataanya penginkataan kendaraan bermotor di indonesia setelah maraknya sistem kredit pada pembelian kendaraan bermotor.Sehingga perlu dikaji kembali apakah mobil dan motor pribadi yang ada di indonesia bisa menjadi alat legitimasi kekayaan seseorang.

TDL kebijakan Neoliberal
Carlos Vilas, seorang sosiolog di National Autonomous University of Mexico (UNAM), menyebut program semacam BLT ini adalah“kebijakan sosial neoliberal”.

Menaikkan harga BBM ini adalah pelaksanaan dari neoliberalisme migas dengan cara menyerahkan harga BBM kepada Mekanisme Pasar. Menjadikan BLT untuk menyembunyikan kebijakan neoliberal ini hanyalah dalih (baca: kebohongan) Pemerintah. Sudah Menjadi Rutinitas semua rakyat Indonesia Pemerintah selalu menjelaskan,kenaikan bbm dilakukan untuk mengurangi penggunaan BBM bersubsidi oleh orang kaya,seperti yang pernah JK jelaskan “bahwa kenaikan BBM dimaksudkan agar pemerintah tidak mensubsidi orang kaya”. Pada kenyataany belum ada penelitian ilmiah yang membenarkan pernyataan tersebut,sampai saat ini itu semua hanyalah bentuk propaganda pemerintah untuk meyakinkan rakyatnya untuk menaikkan harga BBM. Dengan adanya BLT seakan akan pertolongan yang dilakukan pemerintah dalam mengurangi kemiskinan, menyulap kenaikan BBM agar menguntungkan rakyat miskin.


Menurut laporan MDG 2007 untuk Indonesia, kenaikan harga BBM yang terjadi pada tahun 2005 menyebabkan kenaikan persentase penduduk miskin dari 15,97% (2005) menjadi 17,75% (2006). Angka kemiskinan setelah penerapan kenaikan harga BBM melonjak menjadi 39,05 juta jiwa pada 2006. Jumlah penduduk miskin ini adalah yang tertinggi pasca reformasi tahun 1998.Nyatalah bahwa program BLT tidak lebih hanya berupa hiburan sementara bagi rakyat miskin.

Carlos Vilas: "Neoliberalisme memandang peningkatan kemiskinan sebagai suatu penyakit, bukannya konsekuensi sistem ekonomi yang ada." Sederhananya Neoliberal mensyaratkan dua hal. Pertama, meminimalisir intervensi negara. Dan kedua, mengakui kebebasan individu.diberlakukanya BLT dibandingkan dengan pembangunan infrakstruktur adalah bentuk pemerintah untuk mengurangi peranya dalam kehidupa masyarakat.

Kenyataan ini tentunya sangat berlawanan dengan semangat yang dibawa dalam Pasal 33 ayat 2 UUD45,yang menyebutkan bahwa “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.”

Kini perlu dipertanyakan apakah indonesia masih bisa disebut negara berasaskan pancasila,ketika semua kegiatan pemerintahanya lebih menerapakan ideologi neoliberalisme dibandingkan sikap gotong royong yang dibawa oleh ideologi pancasila.sudah saatnya indonesia kembali khitahnya sebagai negara berasaskan pancasila yang lebih mengedepankan sikap gotong - royong, sebelum negara ini benar – benar menjadi negara amburadul.

:astig:
Ikuti PenaAksi[dot]Com di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk mendukung gerakan "Saatnya Mahasiswa Menulis" 
Post ADS 1