Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jakarta Kuat dari Rukun Tetangga

Atmosfer Pilkada Jakarta yang akan berlangsung pada bulan Juli sudah dapat kita rasakan, walaupun masa kampanye secara resmi belum di mulai. Poster dan baliho yang berisi janji-janji kampanye para Cagub menghiasi jalanan ibu kota untuk mempengaruhi masyarakat dalam menentukan hak pilihnya. Macet dan banjir selalu menjadi menu utama yang harus dibenahi oleh para Calon Gubernur DKI Jakarta.

Membangun sebuah kota, berarti membangun manusia. Rasanya terlalu sempit jika kita mengartikan kota yang maju adalah kota yang berteknologi tinggi saja. Teknologi yang tinggi tentu hanyalah rongsokan belaka, jika tidak di dukung oleh masyarakat yang cerdas.

Masyarakat yang cerdas  dibangun dengan pondasi pendidikan yang kokoh. Proses pendidikan seseorang pun dilalui secara bertahap. Pertama diawali dari rumah dan selanjutnya di luar  rumah (baca:sekolah). Selanjutnya manusia mempunyai tempat yang luas lagi, yaitu dunia pergaulan hidup bersama.

Berdasarkan hal di atas, kita dapat membagi tempat pendidikan menjadi tiga bagian penting, yaitu: rumah, sekolah, dan masyarakat (pergaulan umum). Bicara pendidikan di rumah tentu akan menjadi otoritas orang tua, sedangkan pendidikan di sekolah, pemerintah memegang peranan penting  secara keseluruhan dalam otoritas pendidikan. Lantas, bagaimana dengan pendidikan di lingkungan masyarakat?

Kenyataan yang terjadi saat ini adalah minimnya peran masyarakat dalam membangun pendidikan di kota jakarta. Tawuran pelajar,dan tawuran antar kampung tidak akan terjadi jika masyarakat kita peduli. Masyarakat yang peduli tentu akan melakukan pencegahan, sebelum bentrokan itu terjadi. Hari ini idealitas itu menjadi asing, setiap orang mencari keselamatan untuk dirinya sendiri dan acuh terhadap urusan orang lain.

Masyarakat yang egois telah membangun tembok interaksi masyarakat dengan hadirnya perumahan tertutup dengan kemanan 24 jam. Perumahan-perumahan seperti ini telah tumbuh pesat dan banyak menghancurkan tatanan hidup masyarakat ibu kota. Dampak terburuk dari fenomena ini adalah timbulnya kastanisasi antara masyarakat kampung dengan masyarakat perumahan elite.

Untuk membentuk lingkungan masyarakat yang kondusif dalam membangun manusia sangatlah diperlukan. Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta memiliki peranan penting dalam pembangunan masyarakat ibu kota. Dengan mengoptimalkan peran  rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW)  yang rutin bersentuhan langsung dengan warga. Namun saat ini, peran rukun tetangga dirasa belum maksimal, karena fungsinya lebih banyak berkutat pada sisi administrasi saja.

Rukun tetangga adalah satuan terkecil dari pemerintah daerah yang harus kita tingkatkan perannya. Pelatihan dan seminar dalam skala kecil perlu diselenggarakan pada tingkat Rukun Tetangga. Tema yang diangkat dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. Kegiatan ini akan memberikan skill serta pengetahuan baru kepada masyarakat. kegiatan inipun bertujuan untuk memberi stimulus pendidikan sepanjang hayat kepada masyarakat. Dengan harapan akan terbentuknya masyarakat yang cinta pendidikan.

K.H.R Zainuddin Fananie dalam bukunya, Pedoman Pendidikan modern menyatakan “dalam dunia pergaulan, hanya diri sendirilah yang menjadi pendidik, yang mempunyai kewajiban mengatur diri dan bertanggung jawab atas segala halnya sendiri. Itulah pendidik yang paling berkuasa dan yang paling penting.” Pernyataan ini menjelaskan bahwa setiap individu masyarakat berhak menentukan kegiatan pilihan mereka. Kini menjadi tugas Pemda serta Rukun Tetangga untuk menghapus pilihan negative dengan menciptakan pilihan- pilihan positif bagi masyarakat ibu kota. Jika kita dapat merealisasikanya, tentu masyarakat cerdas bukanlah sekedar impian,tetapi mimpi yang akan segera terealisasikan. Karena membangun jakarta adalah membangun manusia.


follow me on twitter @ihsanamuslim

Post ADS 1